September 15, 2012

Karena Ilmu harus di Tulis (Part 2)

Membangun komitmen, memang gampang-gampang susah, berlaku pada pekerjaan dan kegiatan apapun, kecuali untuk hal-hal buruk, mungkin tidak susah menjaganya, tetapi untuk kebiasaan yang baik, kita sekakan membutuhkan energi dan kekuatan ekstra untuk mewujudkannya.Saya sangat terinspirasi dengan salah seorang blogger senior, yang berulangkali saya kunjungi blognya, karena tulisannya yang mengalir dan sarat makna, dia menjadikan slogan Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi pada blognya, yang juga menjadi deskripsi  blog pribadinya. Saya awalnya sangsi juga dengan slogan tersebut, saya kemudian berpikir, apa mungkin kita bisa rutin menulis di tengah berbagai aktivitas offline  yang kita jalani. Tetapi dia sudah membuktikan, bahwa dia bisa menjalaninya, tanpa mengganggu aktivitas kesehariannya sebagai salah satu Guru SMP di Bekasi, saya salut denganmu Om Jay…!!

Apa  yang saya inginkan ketika saya memulai komitmen untuk tetap menulis setiap hari. Apapun yang kita lakukan, pasti ingin mewujudkan sebuah tujuan yang hendak dicapai, terrmasuk proyek menulis yang saya canangkan secara pribadi selama 40 hari lamanya. Sebagaimana yang telah di tinjau dalam penelitian prilaku (behavorial), bahwa sebuah kebiasaan baru, minimal akan menjadi prilaku permanen jika di pertahankan selama 40 hari berturut-turut. Saya tak perlu menyangsikan penelitian tersebut, karena memang saya tidak sedang membuktikan teori tersebut, sebab teori tersebut saya ketahui ketika saya sedang melakukan komitmen untuk menulisDalam aktivitas Menulis, sebagian orang mengatakan, bahwa apa gunanya menulis jika tidak berkualitas atau tidak bermanfaat pada orang lain. Dalam hal ini, saya bukanlah seorang penulis terkenal atau intelektual besar,   yang akan jatuh harga dirinya jika menulis dengan kualitas rendah, lagi pula bicara soal kualitas tak terlalu relevan bagi seseorang yang baru atau sedang menjalanan pembiasaan menulis sebagai bagian yang tak terpisah dari kehidupan. Kualitas memang suatu hal yang mutlak, buka Cuma dalam menulis tetapi hampir semua hal dari kegiatan kita sehari-hari. Kualitas harusnya menjadi prioritas yang kontekstual. Seorang pelatih akademi sepakbola tak mungkin mengharapkan anak didiknya mampu menggiring dan menendang bola seperti layaknya Lionel Messi  pada awal latihan, karena itu tak mungkin terjadi, bukan karena tidak adanya poensi, tapi potensi tersebut belum cukup waktu untuk mekar dan memperlihatkan hasilnya.

Kebiasaan baik memang harus terus di pupuk dan tumbuh kembangkan, karena jika tidak ia akan layu kemudian mati atau hilang sama sekali. Jadi kita tak perlu sungkan untuk memulai sebuah kebiasaan yang baik yang memang kita sukai, tak perlulah kita hiraukan apa kata orang-orang tentang laku yang kita kerjakan, sebuah studi  mengatakan bahwa apa kebiasaan yang baik yang kita sukai/cintai, sebenarnya itulah bakat kita, dalam hal ini yang berhubungan dengan ilmu dan keterampilan/skill.

Dalam menulis memang dibutuhkan kepekaan tersendiri, terkait dengan penggunaan kata atau biasa di sebut kepekaaan gramatikal, untuk membentuk suatu kalimat yang memiliki makna, atau dalam bahasa indonesia dikenal dengan struktur  subjek predikat objek (SPO), tanpanya tulisan akan menjadi kacau. Kepekaan seperti  itu tidaklah otomatis di dapatkan dari kegiatan  menulis secara rutin, tapi lebih banyak di dapat dari kegiatan membaca, bahkan Gaya Tulisan pun lebih banyak di serap dari bahan bacaan yang sering kita baca. Salah satu akses besar terhadap pengetahuan adalah membaca, akan tetapi jangan hanya di pahami dalam lingkup membaca teks dalam sebuah buku, tapi dalam lingkup yang cukup luas, alam dan diri kita sendiri.

Sebagaimana di maklumi,  bahwa menulis adalah aktivitas yang lahir belakangan, ia tak mungkin ditumbuhkan tanpa kebiasaan membaca lebih dahulu, menulis juga adalah satu cara untuk mereproduksi ulang bacaan kita, dengan sudut pandang yang berbeda, karena mungkin saja  setiap orang berbeda dalam memberikan pengertian dan sudut pandang terhadap suatu hal. Karena sebagian besar dari kita lahir dan besar dalam kultur dan geografi  yang berbeda.

Membaca dan menulis dua hal yang sangat terkait, seperti dua sisi mata uang logam, bahkan seorang Isaac Newton mengatakan, bahwa saya berpikir dengan menulis, ya memang seperti itu, ia kemudian melahirkan sebuah karya abadi dalam Ilmu pengetahuan ( Principia Matematika) dan ia bertahta sebagai orang nomor dua paling berpengaruh sepanjang sejarah. Isaac Newton sendiri punya kebiasaan membaca dan menulis ulang hasil bacaannya dalam sebuah buku peninggalan ayah tiriya. Terus terang dia adalah idola saya dalam hal pengetahuan keduniaan, saya tergugah oleh pemikiran dan pribadinya.
Karena Ilmu harus di Tulis, mungkin begitulah yang di pikirkan oleh sebagian besar orang-orang  yang mencintai pengetahuan, dan sadar bahwa pengetahuan kekuatan, yang dengannya kita bisa lebih mengenal dunia sekitar kita. pengetahan juga  adalah akumulasi dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya, yang di lestarikan melalui tulisan. Tidakkah kita tertarik menjadi bagian dari  orang-orang yang melestarikan pengetahuan..??Marilah kita mulai menulis dari sekarang..!!

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Karena Ilmu harus di Tulis (Part 2) ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 15, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Karena Ilmu harus di Tulis (Part 2) Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

4 comments:

  1. Visit me back on
    http://art-of-hacks.cyber4rt.com

    ReplyDelete
  2. tetap semangat dalam menulis dan membaca...keep happy blogging always :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam.
      Thank's so much bro, insya Allah tetap bersemangat dan konsisten..!!
      salam.

      Delete

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email