September 16, 2012

Sejenak Merenungi hari-hari kita.

Hari ini, tepatnya hari ahad, seperti hari biasa, saya selalu menjalani  hari-hari dengan ceria dan penuh rasa gembira, walaupun banyak hal yang menjadi beban dalam diri, Sehingga kebermaknaan waktu yang di lalui  akan terasa,  dan akan terasa hambar jika tak pernah kita syukuri nikmat waktu yang masih terberi.

Kemarin dua kakak saya menelpon mengabarkan sebuah berita gembira, kakak kedua saya melakukan teleconference dengan kakak pertama saya, yang intinya memperbincangkan suatu hal gembira, tentang kakak ketiga saya, saya turut berbahagia sekaligus sedih karena keinginan bahagia tersebut sedikit terhalangi, karena kakak ketiga beralasan tentang saya nantinya, saya mencoba memahami dan menerangkan kepada kedua kakak saya, bahwa biar saya nanti yang menjelaskan dan memberikan pengertian kepada kakak ketiga saya tersebut.

Renungan  # 1 : Banyak kejadian yang kita alami dan yang sedang kita jalani, pada masa tertentu memberikan dampak yang  kurang baik pada orang lain, dan bahkan membuat orang-orang tercinta kita berlepas diri untuk menikmati sesuatu, yang selayaknya mereka dapatkan sedari awal. Kita seakan menjadi penghalang bagi mereka menerima kenyataan yang seharusnya mereka dapatkan. Akan lebih baik jika kita melakukan intropeksi diri terhadap beberapa kejadian yang telah kita kerjakan untuk melihat pangkal masalahnya.

Semalam kakak kedua saya mengabarkan melalui telepon, bahwa seorang kerabat dekat mengalamii kecelakaan, ketika kerabat muda saya tersebut pulang dari sekolah, dan kakak saya tersebut menginginkan agar saya menunggu kerabat tersebut Di RS Wahidin Sudirohusodo, sebelum kerabat itu tiba, karena saya memprediksi bahwa perjalanan dari daerah asalku   ke Makassar memakan waktu minimal 3 jam 30 menit, maka tak mungkin saya bisa menunggu lama  dalam waktu yang begitu panjang, maka  saya memutuskan untuk menjenguknya besoknya atau hari ini, setelah mereka tiba dari kampung.

Siang tadi sekitar pukul 11, saya berangkat RS Wahidin Sudirohusodo, untuk menjenguk karabat saya tersebut, untuk melihat kondisinya. Saya sempat bingung apakah memang ia di rujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo atau RS yang lain, saya kemudian berpikir bahwa kalau ia dirujuk dari RS umum, pasti rujukannya pasti  RS umum juga. Saya kemudian berangkat kesana, dan kebetulan   kerabat yang lain   menelon saya, agar berangkat bersama ke RS, saya kemudian mengatakan kepadanya agar di  berangkat duluan saja, biarlah nanti bertemu di RS Wahidin Sudirohusodo. Sesampai di RS Wahidin Sudirohusodo, saya  tak tahu letak dimana  kerabat saya  tersebut dirawat, walaupun saya tahu dia di rawat Di UGD, tapi saya tak tahu tempat persisnya, saya kemudian menelpon sepupu saya tersebut untuk menjemput saya di diluar RS Wahidin Sudirohusodo. Diapun mengantar saya ke tempat para kerabat berkumpul.

Karena untuk masuk ke UGD harus punya ID Card penjenguk, maka kami bergantian masuk untuk menjenguk kerabat muda saya sakit tersebut, selepas shalat dhuhur saya pun masuk untuk menjenguk kerabat yang sakit itu, dan kebetula pada saat itu kerabat tersebut sedang di jaga oleh seorang kakaknya. Saya pun bercerita panjang lebar dengan kakaknya perihal kejadian yang menimpa adiknya tersebut.

Kakaknya tersebut menuturkan bahwa dia tak tahu persis kejadiannya, karena dia juga baru berangkat dari Mamuju, setelah mengetahui kejadian tersebut.,  setelah kejadian tabrakan tersebut adiknya seperti kehilangan penglihatannya, dan kepalanya pening, karena kejadian itu itupulalah,  dia di rujuk RS umum di Makassar, karena RS umum di Pinrang belum memiliki alat pemindai/scan bagian kepala. Untungnya setelah ia tiba, dia segera mengecek segala hal yang berkaitan dengan kondisi adiknya tersebut, setelah mengetahuinya, ia segera menghubungi  dokter spesialis saraf,  untuk  memastikan kejadian sebenarnya.  Setelah di san/dipindai pada bagian kepalanya dan dokter spesialis saraf tersebut berkesimpulan,  bahwa tak ada yang bermasalah dengan kepala adiknya  tersebut, kemungkinan bahwa ia tak bisa melihat dengan, di sebabkan oleh pembengkakan pembuluh darah atau pembengkokan saraf di sekitar pupil mata ke otak, sehingga perlu di periksa lebihlanjut. Pagi harinya dokter spesialis tersebut, memberikan stimulasi cahaya pada mata pada adiknya tersebut,  pada sekeliling matanya,  Karena tidak ada respon yang di inginkan, maka di berikan tetes obat mata pada sekeliling matanya, dan matanya memberikan respon sekitar 40 menit setelah di berikan obat tetes mata tersebut, dan berangsur-angsur bisa melihat, walaupn dalam jarak agak dekat.

Renungan # 2 : Kita ini, orang-orang yang sehat sebenarnya orang-orang yang kaya-raya, coba kita bandingkan dengan orang yang bermasalah dengan panca inderanya, di harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk menyehatkannya seperti semula, atau coba kita tanya orang-orang yang sehat untuk menjual salah satu organ pitalnya dengan harga miliaran, saya yakin tak ada yang ingin seperti itu, karena ia jauh lebih berharga dari uang, artinya kita sebenarnya lebih kaya dari yang kita pikirkan tentang diri kita. dan anehnya, kita cenderung untuk tidak mensyukuri apa yang yang kita rasakan/nikmati hari ini, padahala jika kita memang orang beragama, nikmat itu bisa pergi kapan saja dan di ambil oleh sang pemiliknya.

Maka dari itu,  Marilah kita menjadi orang yang bersyukur  dengan apa yang kita nikmati hari ini..!!

Sumber gambar:

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Sejenak Merenungi hari-hari kita. ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 16, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Sejenak Merenungi hari-hari kita. Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email