July 21, 2012

Menemukan “Gaya Menulis”

Bagi saya, tangan adalah jembatan kepribadian saya. Tangan, sebagai jembatan, merupakan sarana efektif untuk mengalirkan apa saja yang ada di dalam diri. Lewat tanganlah saya dapat melihat gambaran jiwa saya yang sesungguhnya.

Coba mari kita lihat secara saksama tanda tangan kita. Bagaimana lengkungan-lengkungan garis itu membentuk sebuah simbol hati kita. Bagaimana coretan-coretan kuat yang tebal-tipis itu menyiratkan getaran-dahsyat watak kita. Bukankah tanda tangan, yang dialirkan lewat tangan kita, melambangkan diri kita?

Dalam hal menulis, saya memiliki pengalaman menarik. Pada mulanya, tangan saya bergerak mengalirkan pandangan saya lewat meniru. Pertama-tama, saya meniru kalimat-kalimat indah yang diciptakan “role model” saya. Lama-kelamaan, ternyata hasil tiruan saya itu bercampur sedikit demi sedikit dengan milik-sejati saya. Dan apabila saya kerap sekali menulis tentang apa saja berkaitan dengan diri saya, ternyata tiruan saya kemudian dapat ditutupi oleh “warna” karakter saya. Saya lalu dapat menemukan “gaya menulis” saya.

Bagaimana saya membentuk “gaya menulis” saya? Inilah kisahnya.
Sejak mahasiswa saya suka sekali membaca buku catatan harian Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie. Kadang-kadang, di saat-saat menyendiri, saya juga masih suka membacai-ulang catatan-catatan mereka. Ada banyak renungan yang ditulis oleh keduanya yang cocok dengan keadaan diri saya. Dua buku catatan harian ini bagaikan cermin bagi saya. Di situ saya banyak menemukan kepingan-kepingan diri saya. Memang, saya kemudian pernah berharap: “Andaikan saya bisa menuliskan pengalaman hidup saya secara personal.”

Belakangan, saya juga suka sekali membaca buku-buku serial Chicken Soup for the Soul. Bahkan beberapa buku yang ditulis secara personal kemudian menarik hati saya. Buku catatan harian Sarah Ban-Bretnach, Simple Abundance, sungguh membuat saya takjub. Dan juga Tuesday with Morrie-nya Mitch Albom benar-benar menggetarkan hati saya.

Bagaimana saya kemudian menemukan dan mengembangkan gaya menulis saya? Jelas saya harus menyebut nama Cak Nun dan Kang Jalal. Saya belajar banyak dari Cak Nun berkaitan dengan penciptaan frase ataupun istilah yang menggelitik. Kang Jalal kemudian membimbing saya untuk tertib dan tertata dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan saya lewat tulisan. Saya memang tidak berguru langsung kepada kedua tokoh ini. Saya hanya rajin membaca buku-bukunya dan sesekali mencatat beberapa ungkapan menarik yang diciptakan oleh baik Cak Nun maupun Kang Jalal.

Kebetulan pula hampir semua buku Ustad Quraish sayalah yang “mengemas”-nya. Proses “pengemasan” yang diselenggarakan oleh Mizan adalah bagaimana tidak hanya teks melulu yang diperbaiki lewat penyuntingan, namun juga bagaimana seorang editor menemukan “makna” di antara kaitan-kaitan antarteks. Metode “pengemasan” yang dikembangkan oleh para editor Mizan akhirnya bermuara ke sebuah cara menemukan “style” seorang penulis. Inilah yang kemudian melahirkan judul-judul yang berkarakter: Islam Alternatif, Islam Inklusif, dan sebagainya.

Saya belajar banyak dari Ustad Quraish mengenai bagaimana menemukan detail makna kata. Saya pikir, kelebihan Ustad Quraish sebagai penulis buku mengenai Al-Quran adalah dalam hal pengeksplorasian kata. Piawai betul beliau dalam melacak makna-makna sebuah kata. Kekayaan makna sebuah kata yang ditemukan oleh Ustad Quraish begitu berwarna-warni sehingga mampu memperluas wawasan dan memperkaya perspektif saya.

Akhirnya ... munculah Mengikat Makna. Semoga bermanfaat. 

By : Hernowo

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Menemukan “Gaya Menulis” ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari July 21, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Menemukan “Gaya Menulis” Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email