September 17, 2012

Bicara tentang makna Cinta

Suatu saat, ketika saya menonton televisi, ada sebuah acara dimana reporter menanyakan kepada setiap orang, tentang makna cinta. Ada yang mengatakan bahwa cinta nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, cinta itu indah, cinta itu agung, cinta itu suci dan sebagainya. Padkay sendiri mengatakan, " Cinta, penderitaannya tiada akhir". Para filosof juga seringkali membicarakan tentang makna cinta dan akhirnya kesimpulannya tetap terserah kepada siapa yang memandang.

Cinta dapat menjadikan manusia menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan orang menjadi tercela. Seorang sahabat nabi, yang karena cintanya kepada beliau, rela menghadang panah-panah dengan tubuhnya untuk melindung beliau, dan cinta semacam ini adalah cinta yang penuh dengan nilai kemuliaan. Seorang ayah, karena cintanya kepada anaknya, rela bekerja siang malam, bahkan lembur segala, untuk membahagiakan istri dan anaknya, untuk sekedar melihat senyum mengembang di bibir istri dan anaknya, maka cinta yang demikian adalah cinta yang mulia. Cinta dapat membawa kepada nilai kebaikan dan kemuliaan.

Kalau saya membaca surat kabar, maka pada rubrik konsultasi, seringkali saya membaca kesaksian pembaca tentang hubungan suami istri Pra nikah antara seseorang dengan pacarnya, mereka mengatasnamakan cinta. Atau barangkali di malam valentinan kemarin, banyak pasangan muda mudi berasyik masyuk berciuman, berpelukan, dan mereka mengatasnamakan cinta. Yang demikian barangkali adalah cinta yang membawa kepada keburukan dan kehinaan.

Dalam Islam cinta akan diarahkan kepada nilai kebaikan dengan landasan yang kokoh. Dalam Islam landasan cinta adalah cinta Allah, dan cinta Rasul. Landasan yang takkan mungkin berubah, dan yang jika berubah akan mengurangi atau bahkan menghapuskan nilai keimanan seseorang. Kecintaan manusia pada suatu hal, harus berlandaskan pada dua cinta tersebut. Itulah yang menyebabkan nilai kecintaan dalam Islam memiliki ranking yang sangat tinggi, dan mempunyai bobot yang sangat berat, karena cinta harus berlandaskan pada semangat-semangat keimanan.

Nanti, pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan dengan apa yang dicintainya, akan dikumpulkan dengan apa yang dicintainya. Orang bisa saja mencintai Nafa Urbach, Krisdayanti, Sheila on Seven, Ali bin abi Thalib, Fatimah ra, dan ia akan dibangkitkan bersama golongan orang yang dicintainya itu. Berhati-hatilah dalam mencinta, dan cintailah hanya orang-orang yang memang patut dan layak dicintai.

Suatu saat seorang yang menjadi Imam Sholat, dilaporkan kepada Rasululloh, karena ia hanya membaca surat Al-Ikhlash dalam rakaat-rakaatnya. Apakah tidak ada surat lain yang lebih panjang? Lalu, Rasulpun memanggil orang tersebut, menanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut. Orang itu menjawab,"Saya mencintai Alloh hingga saya suka sekali dengan surat Al-Ikhlash itu, karena isinya menceritakan tentang keesaan Alloh." Maka Rasululloh berujar,"Alloh mencintaimu karena cintamu kepada-Nya". (saying tak disebutkan perawinya)

Pada kesempatan yang lain, Rasululloh bertanya kepada Umar, apakah Umar mencintai beliau melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Umar menjawab, "Kalau yang itu nampaknya belum, ya Rasul!". Rasululloh kemudian berujar, " Belum sempurna iman seseorang jikalau ia belum mencintaiku melebihi cintanya kepada dirinya sendiri," Umar menyahut, "Mulai saat ini, aku akan mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri!"

Rating Cinta
Islam mengenal beberapa peringkat cinta. Peringkat pertama adalah TATAYYUM, yang menduduki tempat teratas. Ialah cinta yang hanya mampu kita persembahkan kepada Rabb Yang Mahaagung, yang mampu menciptakan rasa ingin mempersembahkan gemerincing rupiah terakhir dan tetes darah penghabisan (romantis, bukan?). "Orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh." (QS. Al-Baqarah:165).

Peringkat kedua adalah ISYQ, yang hanya merupakan hak kekasih ALloh, pria yang paling indah akhlak dan kepribadiannya di muka bumi, yaitu Rasululloh SAW. Cinta ini berwujud kerinduan untuk bertemu dan mengikuti sunnahnya.

Peringkat ketiga adalah SYAUQ, yaitu cinta antara sesama mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami-istri, anak-orangtua, and so on.

Yang berikutnya adalah SHAHABAH, yang ditujukan untuk sesama muslim, hingga melahirkan Ukhuwah Islamiyah.

Peringkat kelima disebut ITHF (simpati), yang ditujukan kepada sesame manusia. Rasa simpati ini menumbuhkan keinginan untukberdakwah menyelamatkan manusia dari ancaman siksa Alloh di hari akhir.

Juru kunci cinta diduduki oleh INTIFA', yang merupakan kadar cinta yang paling rendah dan sederhana, yaitu cinta kepada selain manusia, seperti harta benda, pangkat, dan kedudukan. Bila dikelola dengan baik dan disertai rasa syukur, ia dapat menumbuhkan ghirah (semangat) untuk memanfaatkan dan mendayagunakannya di jalan Alloh.

Di manakah rating cinta yang kita miliki saat ini? Hiduplah dalam naungan cinta, dan pilihlah cinta yang hanya berlandaskan pada Alloh dan Rasululloh. Dan cintailah hanya orang yang memang layak untuk kita cintai, yang akan bersama kita menuju ridha-Nya.

Selamat bercinta.
Terimakasih kepada Dr. Abdullah Shahab, akan taushiyahnya Tentang Cinta, tentu saja.
Juga Ibnul Qayyim Rahimahulloh. Insya Alloh.

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Bicara tentang makna Cinta ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 17, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Bicara tentang makna Cinta Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email