July 27, 2012

Industri Pornografi dan Prilaku Seksual Remaja

Fakta Yang Memprihatinkan
93 persen dari 202 remaja yang diteliti mengatakan pernah terlibat dengan materi pornografi, dengan derajat keterlibatan yang beragam yaitu 82 persen sekedar pernah, 10 persen sering, sementara 1 persen setiap hari mengkonsumsi pornografi ini. Data ini menunjukkan betapa luasnya peredaran material pornografi dikalangan remaja. Sangat mungkin angka ini menggambarkan betapa remaja dari keluarga-keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional pun bisa juga terperangkap pada jaringan pornografi yang ada disekitar mereka.

Selain itu, remaja kita ternyata cepat beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan teknologi. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa secara umum pengakses internet di Indonesia hanya sekitar 1 persen dari total populasi, namun ternyata 1
diantara 3 remaja ( 35 persen ) mengaku mengakses situs pornografi dari internet. Tentu jumlah ini sangat luar biasa. Disatu sisi kita melihat remaja kita yang tidak gagap teknologi disisi lain ada bahaya yang harus diwaspadai. Kalau total pengakses internet hanya 1 persen sementara remaja yang mengakses situs pornografi sebesar 35 persen, timbul pertanyaan dari mana mereka mengaksesnya ? Kemungkinan pertama mereka mengakses rame-rame dari rumah teman yang memiliki akses internet, kemungkinan kedua mereka mengaksesnya dari tempat-tempat koneksi internet yang disewakan.

Pornografi adalah suatu industri raksasa yang menjanjikan keuntungan yang amat besar bagi produsen maupun retailernya, coba bayangkan dari cybersex saja setiap tahun diraup keuntungan sebesar US$ 10 Milyar. Belum yang melalui media cetak, video, VCD, film, serta barang-barang pornografi lain termasuk sextoys. Dengan keuntungan sebesar ini tentu industri pornografi bisa berbuat apa saja, membeli hukum sekalipun. Karena itu tidak heran betapa sulit memberantas pornografi.


Sedikit Dampak Yang Terkuak

12 persen responden memilih sexuality standard mereka dalam kelompok permissiveness. Mereka ini menganggap hubungan seks sebelum menikah adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Ira Reeis mengatakan bahwa sexuality standard seseorang akan mempengaruhi pola prilaku seksual seseorang, karena itu tidak mengherankan jika dalam penelitian ini terungkap 14,85 atau hampir 15 persen remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan 100 persen dari mereka yang bertunangan mengaku telah melakukan hubungan seksual dengan tunangan mereka. Agaknya mereka yang bertunangan sulit membedakan antara pertunangan dan pernikahan, atau mereka termasuk yang sexuality standard-nya permissiveness with affection, yaitu asal ada perasaan saling suka seks menjadi sesuatu yang benar untuk dilakukan. 



Hal lain yang terungkap, 7 persen dari responden mengaku melakukan aktifitas oral sex. 100 persen mereka yang melakukan oral sex ini mengaku mendapatkan gagasan untuk melakukan oral sex dari VCD porno yang mereka lihat, disamping itu 73 persen dari teman, 66 persen dari internet, 47 persen dari media cetak seperti Koran, tabloid, maupun majalah. Secara garis besar data ini menunjukan bahwa industri pornografi memiliki pengaruh sangat besar dalam pembentukan pola prilaku seksual remaja. Yang perlu diwaspadai, jika remaja bisa dengan mudah mengadopsi prilaku oral sex yang mereka tangkap dari industri pornografi, tentu tidak tertutup kemungkinan mereka akan dengan mudah pula meniru dan melakukan prilaku-prilaku lain yang digambarkan dalam materi-materi pornografi. Tentu sulit dibayangkan kerusakan yang akan terjadi dalam masyarakat jika industri pornografi tidak dikontrol secara ketat.



Harapan Masih Ada
Problematika yang terkait dengan prilaku seksual sangatlah kompleks sehingga tidak mungkin bisa diselesaikan oleh orang per orang, atau suatu bidang keahlian, atau suatu organisasi kemasyarakatan. Kolaborasi adalah kata kunci yang tepat untuk bisa mengatasi masalah ini bersama-sama.

Mengacu pada hasil penelitian ini, industri pornografi jelas perlu di kontrol. Pemerintah perlu melakukan regulasi terhadap adult material, sehingga materi-materi semacam ini jangan sampai dikonsumsi oleh mereka yang belum bisa membedakan "tangan kiri" atau "tangan kanan". Pengusaha persewaan internet harus ditertibkan sehingga dampak buruk dari cybersex bisa direduksi atau dieliminasi. Masyarakat perlu melakukan gerakan kolektif, misalnya secara serempak tidak mau membeli Koran, tabloid atau majalah yang mengeksploitasi seks, sehingga secara alami media semacam ini akan mengalami natural selection, dan mati dengan sendirinya.

40 persen remaja berdasar penelitian yang dilakukan oleh The National Campaign to Prevent Teen Pregnancy yang dilakukan di Amerika sebagaimana dilaporkan oleh Stuart Shepard dari Focus On Family beberapa hari lalu, mengatakan bahwa orang tua memiliki peranan terbesar dalam pembuatan keputusan berkaitan dengan prilaku seksual yang mereka akan lakukan. Karena itu nisbah antara anak dan orang tua perlu mendapat perhatian, komunikasi yang efektif serta teladan hidup yang positif sangat diperlukan dalam upaya ini.
Aktifitas keagamaan, dalam penelitian yang sama terbukti memerankan peranan yang amat besar. Remaja yang gemar mengikuti acara Worship (Ibadah Penyembahan) di Gereja, ternyata lebih mampu berkata tidak terhadap godaan seks. Dan mereka mengatakan berkeinginan untuk lebih menyenangkan "Hati Tuhan" daripada kekasih mereka. Dari hal yang terakhir ini kita bisa belajar bahwa menyebar luaskan informasi tentang seks, resiko penyakit menular seksual, atau resiko kehamilan remaja, tidaklah cukup, remaja perlu mengerti perspektif spiritual tentang seksualitas mereka. Karena itu institusi keagamaan harus berperan lebih aktif dalam memerangi penyalahgunaan seksualitas yang banyak terjadi dikalangan remaja akibat pengaruh buruk industri pornografi.

Oleh: dr. Andik Wijaya, DMSH

Tulisan ini didasarkan pada penelitian terhadap 202 remaja di kota Malang, pada bulan September 2001. 51, 5 persen responden pria, 48, 5 persen wanita. 6 persen beusia 13 - 15 tahun, 67,3 persen berusia 16 - 18 tahun, dan 26,7 persen berusia diatas 18 tahun.

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Industri Pornografi dan Prilaku Seksual Remaja ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari July 27, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Industri Pornografi dan Prilaku Seksual Remaja Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email