November 25, 2012

Tradisi-tradisi intelektual Islam

Mungkin tak ada yang betul-betul bisa disebut  sebagai tradisi intelektual yang murni islam , yang lahir dari komunitas muslim. Tradisi yang saya maksud adalah bagaiman komunitas muslim menjaga dan mengembangkan pengetahua-pengetahuan di tengah mereka. Upaya awal membangun sebuah tradisi yang mengakar, telah di tekankan dengan sangat kuat dan jelas  dalam berbagai ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadist-hadist Rasullah, sehingga mendorong perkembangan pengetahuan yang pesat dalam beberapa abad  setelah beliau meninggal.


Tentunya bahwa tradisi-tradisi seperti itu di pelopori oleh para Cerdik pandai (para pemikir) yang didukung oleh para sultan dan raja pada  masa keemasan Imperuim Islam. Dominasi mereka telah menghasilkan pulusan karya yang telah menjadi referensi utama bagi  peradaban yang berkembang setelahnya. Sehingga masyarakat muslim saat itu merupakan jembatan bagi kemajuan dan kecemerlangan bangsa eropa, yang pada saat itu masih terbelakang (zaman kegelapan).

Tak bisa di pungkiri bahwa pengaruh Para cerdik pandai/pemikir muslim bagi meletusnya renaissance di eropa merupakan hal yang tak bisa di bantah, sebagai peradaban yang mendahuluinya, para pemikir/cerdik pandai muslim berhasil mengembangkan pengetahuan-pengetahuan baru  yang di inspirasi dari Al-Qur”an atau Hadist, serta pemgembangan ataupun pendalaman pengetahuan dari berbagai peradaban yang ada sebelumnya, seperti Yunani, India serta Cina.



Melihat sejarah kegemilangan komunitas muslim saat itu, tentunya kita bertanya, apakah yang membuat mereka begitu gemilang mengembangkan pengetahuan pada saat itu, sehingga mereka begitu antusias untuk mencari dan melakukan penelitian-penelitian yang terkait dengan ilmu-ilmu dunia dan  ilmu-ilmu agama. Setidaknya kita bisa melihat beberapa fakta yang bisa kita selami bersama.

Pertama : Mereka betul-betul memahami bahwa al-quran merupakan kitab petunjuk dan hadist adalah penjelasnya,yang didalamnya ada banyak ayat yang menjelaskan keutamaan orang yang berpengetahuan, serta dorongan untuk mengekplorasi alam untuk kemaslahat umat, juga untuk melihat kebesaran sang pencifta. Bahwa firman Allah dan sabda nabibya begitu menghormati  orang-orang yang berpengatahuan, dan orang beriman, sehingga itu merupakan motivasi yang paling esensial dan utama untuk berkarya, bahwa orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan pengetahuan, sama dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah

Kedua : Bahwa pada saat itu kaum muslim berhasil mengembangkan pengetahuan yang integrative, ternyata penguasa pada saat itu memberikan dorongan penuh bagi penelitian dan penerjemahan manuskrip-manuskrip  dari peradaban yang lain, dalam artian bahwa para raja dan sultan turut aktif, dan mempunyai peran yang signifikan untuk memotivasi, serta membangun sarana dan pendanaan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketiga : Komunitas muslim saat itu tidak pernah melihat sebuah di kotomi antara dunia dan akhirat, antara pengetahuan agama dan dunia, antara akal dan wahyu. Masing saling terkait satu sama lain, sehingga mendorong ilmuan dan ulama untuk mencurahkan segenap kemampuannya untuk mendalami suatu objek pengetahuan.

Keempat : Penghargaan pada karya yang di hasilkan begitu besar, baik sesama Ulama/Ilmuan/Pemikir, maupun pada masyarakat awam,  terlebih lagi Penguasa. Jadi setiap ulama/Ilmuan yang menghasilkan suatu temuan atau menulis sebuah buku,  akan di takar sesuai beratnya, untuk di tukar dengan emas,  salah satu penghargaan tinggi pada pengetahuan, yang tidak pernah kita jumpa lagi  saat ini.

Kelima : saat itu ada iklim keterbukaan ide  atau gagasan, baik menolak atau menerima suatu pendapat, kalau menolak, bukan dalam bentu kekerasan atau saling mencemooh, tetapi dengan membangun argumentasi yang kaut, sehingga memunculkan ilkim yang sehat dalam berdebat,berdiskusi atau melakukan kegiatan intelektual yang lain.

Keenam :  memang Tak bisa di pungkiri bahwa tradisi intelektual pada saat itu tidak bisa dilepaskan dari  tradisi membaca, dan kemudian menuliskannya. Tradisi seperti ini juga merupakan fondasi utama dalam membangun sebuah perdaban. Tentunya ia di inspirasi dari Al-Qur-an, yang menekankan dalam surah yang pertama turun, yaitu perintah membaca (Iqra), sebuah tradisi yang lambat tapi pasti sudah di tinggalkan oleh sebagian besar kaum muslim, sehingga menjadi terbelakang dalam hampir setiap lini kehidupan.

Saya jadi teringat dengan sebuah Koran yang pernah  saya baca beberapa tahun yang lalu,  yang memuat tentang bagaimana pemerintah Inggris masih menggalakan pengadaan perpustakaan umum di hampir  setiap sudut kota Inggris,suatu cara  untuk memotivasi warga kota itu, untuk terus mncintai dan mempertahan  tradisi membaca,   Sebuah hal yang layak di contoh untuk sebuah kemajuan dan pengembangan pengetahuan di Indonesia ini. Semoga, kemajuan itu tak akan lama lagi, jika kita berbuat dari sekarang.

Semoga..!!

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Tradisi-tradisi intelektual Islam ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari November 25, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Tradisi-tradisi intelektual Islam Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email