September 26, 2012

Pelajar, ada apa denganmu

Apa yang harus kita katakan dengan pelajar kita, yang mempertontonkan kebringasan dan tindakan sikap premanisme mereka di jalan, seakan mencontoh tingkah  kasar sebagian kakak mereka (mahasiswa), agak aneh sebenarnya jika kita sebagai warga yang baik, tidak merasa Prihatin dengan tingkah dan prilaku anak muda kita itu,  yang nota bene berstatus sebagai pelajar. Tawuran massal, oh itu lagi dan itulagi, saya tanpa sadar menyebut kata itu berulang kali,  ketika melihat berita yang menyuguhkan   tawuran massal antar sekolah, saya jadi  merasa aneh melihat  tingkah generasi muda terdidik kita, dari pelajar sampai mahasiswanya seperti  mengidap penyakit massal sindrom tawuranisis, yang mungkin di inspirasi dari film laga atau horor, hiks..!?

Perkelahian antarpelajar sekarang jauh lebih ganas dibanding yang terjadi masa silam. Apabila pelajar di era sebelumnya malah bangga menyelesaikan persoalan dengan perkelahian tangan kosong satu lawan satu, era sekarang justru berubah menjadi perkelahian massal. Beraninya main keroyok, saling serang secara ramai-ramai. Tidak hanya itu, sekarang perkelahian bukan lagi dengan tangan kosong, tetapi berbekal berbagai senjata tajam seperti clurit, golok, badik, pedang, gir sepeda, bahkan panah, dan air keras. Kejantanan yang dimiliki pelajar, atau pemuda masa lalu tak terlihat lagi sekarang. Tak ada sportivitas, mengaku kalah apabila keok dalam perkelahian satu lawan satu. Sekarang yang ada adalah menghalalkan segala cara. Tepukan bahu saja bisa berubah menjadi perkelahian massal. Jika kalah, nanti datang lagi dengan jumlah lebih besar, dengan senjata lebih komplet.

Generasi muda yang diharapkan  untuk menjadi generasi penerus bangsa  berada pada simpang jalan, yang nyatanya mengubur sebagian harapan kita, bahwa akan  menjadi generasi emas yang bisa mewujudkan cita-cita luhur Faunding father kita. Apa yang kita saksikan sekarang seakan memperlihatkan bahwa bahwa ada yang dengan pengelolaan pendidikan di negri ini. Walaupun diakui bahwa tawuran di latar belakangi oleh beragam aspek, Pada tingkat mikro, rendahnya kualitas pribadi dan sosial siswa mendorong mereka berprilaku yang tidak pronorma. Pada tingkat makro, buruknya kualitas dan manajemen pendidikan mendorong rasa frustasi anak yang dilampiaskan pada tindakan negatif, termasuk tawuran. Persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan hidup memberi sumbangan tinggi bagi terbentuknya masyarakat (termasuk siswa) yang merasa kehilangan harapan untuk hidup layak. 

Pendidikan yang paling dasar dimulai dari rumah.Orang tua sendiri harus aktif menjaga emosi anak. Pola mendidik juga barangkali perlu dirubah.Orang tua seharusnya tidak mendikte anak, tetapi memberi keteladanan.Tidak mengekang anak dalam beraktifitas yang positif. Menghindari kekerasan dalam rumah tangga sehingga tercipta suasana rumah yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang si anak Menanamkan dasar-dasar agama pada proses pendidikan. Tidak kalah penting adalah membatasi anak melihat kekerasan yang ditayangkan Televisi. 

Media ini memang paling jitu dalam proses pendidikan.Orang tua harus pandai-pandai memilih tontonan yang positif sehingga bisa menjadi tuntunan buat anak.Untuk membatasi tantonan untuk usia remaja memang lumayan sulit bagi orang tua.Karena internetpun dapat diakses secara bebas dan orang tua tidak bisa membendung perkembangan sebuah teknologi Filter yang baik buat anak adalah agama dengan agama si anak bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk apapun dan dari manapun.Dan pendidikan anak tidak seharusnya diserahkan seratus persen pada sekolah.

Untuk meminimalkan tawuran antar pelajar, harus ada sinergi  dan kerjasama yang terus menerus antara orang tua, guru dan pemerintah, minimal  di lakukan beberapa cara, antara lain.

Pertama : Sekolah harus menerapkan aturan tata tertib yang lebih ketat, agar siswa/i tidak seenaknya keluyuran pada jam  jam pelajaran di luar sekolah. 

Kedua : Peran BK ( Bimbingan Konseling harus diaktifkan dalam rangka pembinaan mental siswa, Membatu menemukan solusi bagi siswa yang mempunyai masalah sehingga persoalan-persoalan siswa yang tadinya dapat jadi pemicu sebuah tawuran dapat dicegah.

Ketiga : Mengkondisikan suasana sekolah yang ramah dan penuh kasih sayang . Peran guru disekolah semestinya tidak hanya mengajar tetapi menggatikan peran orang tua mereka. Yakni mendidik.

keempat : Penyediaan fasilitas untuk menyalurkan energi siswa. Contohnya menyediakan program ektra kurikuler bagi siswa.Pada usia remaja energi mereka tinggi, sehingga perlu disalurkan lewat kegiatan yang positif sehingga tidak berubah menjadi agresivitas yang merugikan. Dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler Ini sekolah membutuhkan prasarana dan sarana, seperti arena olahraga dan perlengkapan kesenian, yang sejauh ini di banyak sekolah belum memadai, malah cenderung kurang. Oleh karenanya, pemerintah perlu mensubsidi lebih banyak lagi fasilitas olahraga dan seni. 

Kelima : Pemerintah harus tegas dalam menerapkan sanksii hukum Berilah efek jerah pada siswa yang melakukan tawuran sehingga mereka akan berpikir seratus kali jika akan melakukan tawuran lagi.Karena bagaimanapun mereka adalah aset bangsa yang berharga dan harus terus dijaga untuk membangun bangsa ini.

Sumber inspirasi dan gambar

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Pelajar, ada apa denganmu ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 26, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Pelajar, ada apa denganmu Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email