Dalam persaudaraan kita menemukan
batas-batas pribadi kita yang dikarenakan ‘egosentrisme’ alamiah kita atau
pemusatan pada diri sendiri. Walaupun kita berbudi luhur, jika kita ingin tetap
tinggal manusia yang sehat, kita harus mengindahkan kebutuhan alamiah kita akan
keamanan, pegangan dan kepastian. Dan untuk itu kita membutuhkan orang lain.
Namun kita harus juga melindungi dengan baik ruang gerak hidup kita sendiri.
Tidak seorang pun bisa hidup dalam kevakuman. Manusia tidak bisa hidup dalam
ruang dan waktu tanpa kepastian tertentu. Persaudaraan menciptakan ruangan aman
dengan banyak unsur persamaan. Dalam persaudaraan kita bisa menerima orientasi.
Realita sekarang ini semakin jauh dari perdamaian,
persaudaraan, persatuan. Setiap kelompok juga individu saling menjustifikasi
kebenaran yang ada pada kelompok dan diri masing-masing. ‘Saya benar dan kau
salah’, ‘saya muslim dan kau kafir’, ‘saya kay dan kau miskin’, ‘saya pintar dan
kau bodoh’, ‘gue gaul dan elo nggak’, ‘aku indah dan kau jelek’, aku
berkuasa dan kau tak bisa apa-apa’, aku ini dan kau itu. Apa lagi?
Banyak dari saudara kita yang kelebihan bahkan berlimpahan
materi yang seharusnya dekat dengan mereka yang kekurangan, justru semakin
menjauhkan diri. Gengsi bahkan pelit untuk berbagi sedikit dari yang
berlimpahan itu. Masing-masing mengasingkan diri dan diasingkan.
Saya
tahu, uang membuat dunia berputar. Tetapi,
dunia memang sangat lucu. Kita tidak seharusnya tergantung pada
lembaran-lembaran kertas untuk hidup, tetapi kita melakukannya. Mengerikan!
Begitulah cara yang digunakan di dunia ini. Di dunia lain tidaklah seperti ini. Mereka tidak berlebihan. Mereka berbagi,
jadi tidak ada yang kekurangan atau berkelebihan. Setiap orang cukup mempunyai
sesuatu yang mereka inginkan, dan hanya itu. Tidak
ada ‘lebih’ dan ‘kurang’. Setiap orang berkecukupan.
Jika
dunia kita mempunyai cara yang sama, maka tidak ada perang dan kelaparan lagi.
Mereka hanya saling bertukar (barter). Misalkan, para insinyur membuat jalan,
atau para pemborong membangun rumah, dan para dokter mengobati pasiennya,
sedangkan para petani mengerjakan tanahnya. Mereka bertukar jasa, hanya itu.
Setiap orang mempunyai toko untuk mereka datangi dan mengambil apa yang mereka
butuhkan dan mereka bagikan. Setiap orang merasa cukup dengan apa yang
dibutuhkan, bukan tergantung dari apa yang mereka kerjakan, tetapi menurut apa
yang mereka butuhkan.
Hubungan antar manusia
selalu dinamis dan berkembang. Sebab, manusia bukanlah materi semata, bukan
pula sekadar akal. Lebih dari itu, manusia juga mampunyai hati dan perasaan.
Artinya, manusia punya kehidupan emosional yang tidak bisa disepelekan.
Hubungan antara manusia memiliki ragam bentuk; adakalanya merupakan hubungan
cinta dan persaudaraan, bisa sebatas hubungan pertemanan, hubungan yang saling
menguntungkan, bahkan hubungan yang tidak harmonis karena saling membenci, dan
sebagainya. Berangkat dari semua itu, maka kuat-lemahnya hubungan antar manusia
sangat berbeda-beda.
Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa merasa tertekan. Orang lain memberi pegangan kepada kita. Ia memberi peluang untuk mengembangkan kehidupan kita sendiri ‘dengan aman. Spiritualitas persaudaraan ialah lain dari pada kemampuan sempurna manusia untuk menyatakan kepada orang lain ‘respek dan perhatian sebagai saudara’ dengan segala pembatasan dirinya sendiri. Jika inilah persaudaraan, semestinya cukup jika orang mempunyai motivasi bersama bagi hidup persaudaraan sehingga menjadi manusia sepenuhnya. Kalau begitu, persaudaraan lahir dari kebutuhan akan keadilan dan kebaikan, respek terhadap kelemahan dan kepekaan orang lain, rasa takut akan kesepian, keinginan untuk dihargai, disapa dan diperhatikan, dan juga keinginan untuk memiliki bersama satu rumah tangga, satu rumah, serta sarana materiil dan finansial, dan keinginan untuk menjadi efisien dan siap sedia bagi apostolat dan karya amal yang dicitakan, dst.
Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa merasa tertekan. Orang lain memberi pegangan kepada kita. Ia memberi peluang untuk mengembangkan kehidupan kita sendiri ‘dengan aman. Spiritualitas persaudaraan ialah lain dari pada kemampuan sempurna manusia untuk menyatakan kepada orang lain ‘respek dan perhatian sebagai saudara’ dengan segala pembatasan dirinya sendiri. Jika inilah persaudaraan, semestinya cukup jika orang mempunyai motivasi bersama bagi hidup persaudaraan sehingga menjadi manusia sepenuhnya. Kalau begitu, persaudaraan lahir dari kebutuhan akan keadilan dan kebaikan, respek terhadap kelemahan dan kepekaan orang lain, rasa takut akan kesepian, keinginan untuk dihargai, disapa dan diperhatikan, dan juga keinginan untuk memiliki bersama satu rumah tangga, satu rumah, serta sarana materiil dan finansial, dan keinginan untuk menjadi efisien dan siap sedia bagi apostolat dan karya amal yang dicitakan, dst.
Sumber Inspirasi:
- http://penakehidupanblog.blogspot.com/2012/03/persaudaraan-karena-allah.html
- http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=0a586088125e435e
- http://www.shterate.com/persaudaraan-sebagai-nilai-manusiawi/
- http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kesetiakawanan-sosial-persaudaraan-antarmanusia-atau-antarmuslim/
- http://raracisme.blogspot.com/2011/10/mengaburnya-rasa-persaudaraan.html
- http://www.kontaktuhan.org/meditasi/meditasi_49_persaudaraan.htm
No comments:
Post a Comment
Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)