August 27, 2012

Seputar Istilah sekularisasi

Source
      Harvay cox, pada tahun 1960-an sudah menjelaskan secara rinci, bahwa istilah Inggris secular berasal dari bahasa latin saeculum yang berarti zaman sekarang ini (this present age). Ada satu kata lain dari bahasa latin yang juga menunjukan makna dunia yaitu mundus, yang kemudian di-inggriskan menjadi mundane.

Kata saeculum lebih menunjukan masa (time) berbanding mundus yang menunjukan makna ruang (space). Kata saeculum sepadan dengan kata aeon dalam bahasa Yunani kuno. Sedangkan kata mundus sepadan dengan kata kosmos, juga dalam bahasa yunani kuno. Menurut Harvey Cox, disebabkan kata ‘dunia’
didalam bahasa latin memiliki dua istilah yang berbeda, yaitu mundus dan saeculum, maka kata dunia dalam bahasa latin menjadi suatu kata yang mendua (ambnivalent).

Ambivalensi kata “dunia” ini, menurut cox, sebenarnya mengungkapkan problem teologis yang dapat ditelusuri kembali dari perbedaan konsep antara Yunani dan Ibrani. Orang yunani kuno memandang realitas ini sebagai suatu ruang. Sementara dalam bahasa Ibrani, dunia ini menunjukan suatu masa. Bagi orang yunani, dunia adalah sebuah ruang, sebuah tempat. Berbagai peristiwa (event) terjadi ‘di dalam’ (within) dunia, tetapi tiada suatu pun yang penting terjadi ‘kepada’ to dunia. Sebaliknya dalam bahasa Ibrani, esensi dunia adalah sejarah.

Peristiwa yang terjadi secara berurutan, bermula dari penciptaan dan menuju kesempurnaan. Yahudi menganggap bahwa dunia ini diciptakan Tuhan supaya Mausia mencintainya dan membawa kepada kesempurnaan. Jadi, jika orang yunani kuno memandang realitas itu menurut ruang, maka orang yahudi memandang realitas itu menurut masa. Ketegangan konsep antara keduanya kemudian berdampak terhadap teologi Kristen sejak awal pembentukannya.                      

Cox menjelaskan, pengaruh kepercayaan Ibrani terhadap dunia Hellenistik (Yunani) terjadi melalui perantaraan orang-orang Kristen awal, yaitu dengan cara menyementarakan atau mentemporalisasikan (temporalize) realitas. Hasilnya, dunia menjadi sejarah, cosmos menjadi aoon, mundus nenjadi seaculum. Jadi, kata seculer sebenarnya adalah korban pertama dari ketidakinginan orang yunani kuno untuk menerima historisitas Ibrani. Demikian simpul Harvey Cox, seorang teolog dan sosiolog Harvard University.

Jadi disebabkan pengaruh Ibrani itu, konsep sekuler menunjukan ‘kondisi’ dunia ini pada zaman ini (this age), atau masa sekarang. Zaman ini atau masa sekarang berarti peristiwa-peristiwa di dunia ini, da ini juga bermakna peristiwa-peristiwa kontemporer. Penekanan makna yang ditentukan oleh masa atau periode tertentu dianggap sebagai proses sejarah (historical Process). Jadi, inti dari makna seculer adalah bahwa konteks dunia berubah terus-menerus. Akhirnya, berujung pada kesimpulan, bahwa nilai-nilai keruhanian adalah relatif.

Cox kemudian meneliti perubahan makna yang terjadi pada kata seculerisasi. Menurut Cox, sejak awal, disebabkan oleh pengaruh Hellenistik, makna kata seculer sudah merujuk kepada sesuatu yang inferior (rendah). Sekuler sudah bermakna perubahan ‘di dunia ini’ yang bertentangan dengan ‘dunia agama’ yang kekal abadi. Implikasinya, dunia agama yang kekal abadi, yang tidak berubah adalah benar. Karena itu, ia lebih hebat dari dunia seculer yang berlaku dan bersipat sementara.

Makna kata seculer semakin memiliki konotasi negatif ketika terjadinya sintesis pada abad pertengahan antara Yunani kuno dengan Ibrani (Hebrew). Sintesis itu ialah bahwa dunia ruang (spatial world) lebih tinggi dan lebih agamis, sedangkan dunia sejarah yang berubah adalah lebih rendah. Ini sebenarnya pengaruh filsafat Hellenistik kepada ajaran Kristen, simpul Cox. Padahal, Bible sudah mnejelaskan bahwa dibawah kekuasaan Tuhan segala kehidupan tergambar didalam sejarah. Ajaran Bible menyatakan bahwa kosmos tersekularkan. Tapi, pernyataan ini telah kehilangan gaungnya. Kata sekulerisasi, yang awalnya memuiliki makna yang sangat sempit dan khusus, kemudian perlahan-lahan meluas. Sekulerisasi yang pada awalnya bermakna proses pindahnya tanggung jawab pendeta yang agamis menjadi seorang parokia, semakin luas menjadi pemisahan kekuasaan antara paus dan kaisar. Sekularisasi bermakna pembagian antara institusi spritual dan sekular. Sekulerisasi bermakna pindahnya tanggung jawab tertentu dari gereja kekuasaan politik.

Makna yang sudah meluas ini terus berlanjut dalam periode masa pencerahan dan revolusi perancis. Bahkan sekarang pun makna seperti ini, tetap digunakan di negara-negara yang mewarisis budaya katolik. Konsekuensinya, proses pindahnya sebuah sekolah atau sebuah rumah sakit dari gereja keadminisrtasi pablik, misalnya disebut sekulerisasi. Makna ini, kemudian berubah akhir-akhir ini. Sekulerisasi bermakna gambaran sebuah proses pada level budaya, yang paralel dengan level politik. Sekulerisasi berarti hilangnya diterminasi (ketergantungan) agama terhadap sombol-simbol integrasi budaya. Sekulerisasi budaya adalah hal yang lazim dan tak dapat dihindari dari sekulerisasi pilitik dan sosial.

Jadi, dunia ini tidak lebih rendah dari dunia agamis. Karena itu, sekulerisasi adalah proses penduniawian hal-hal yang memang bersifat duniawi. Penjelasan Cox ini identik dengan penjelasan Nurcholis majid tentang sekulerisasi dan ‘penduniawian’. Menurut Nurcholish, konsep dunia sebagai tempat hidup yang bernilai rendah dan hina bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, ummat Islam tidak diperbolehkan curiga kepada kehidupan duniawi ini, apalagi lari dari realitas kehidupan duniawi. Sehingga, sekulerisasi adalah proses penduniawian.

Setelah melacak secara etimologis perubahan makna yang terjadi pada kata sekulereissi, Cox kemudian membedakan antara sekulerisasi dengan sekularisme. Menurut  Cox, sekulerisasi mengimplikasikan  proses sejarah yang hampir pasti tidak mungkin diputar kembali. Masyarakat perlu dibebaskan dari kontrol agama dan pandangan hidup metafisik yang tertutup . Jadi, intinya, sekularisasi adalah perkembangan yang membebaskan. Sebaliknya, adalah nama sebuah ideologi. Ia adalah sebuah pandangan hidup baru yang tertutup dan fungsinya sama dengan agama.

Selain itu, lanjut Cox, sekulerisasi itu berakar dari kepercayaan Bible. Pada tarp tertentu, ia adalah hasil otentik dari aplikasi kepercayaan Bilbe terhadap sejarah barat. Oleh sebab itu, sekularisasi berbeda dengan sekularisme yaitu ideologi yang tertutup. Bagi Cox sekularisme membahayakan keterbukaan dan kebebasan yang dihasilkan oleh sekularisasi. Oleh sebab itu, sakularisme harus diawasi, diperiksa dan dicegah untuk menjadi ideologi Negara.

Harvey Cox berpendapat bahwa gagasan sekularisasi sangat didukung oleh ajaran-ajaran Bible. Cox menjustifikasi pandangan ini dengan mengutip pandangan Friederich Gogarten, seorang teolog Jerman, yang mengatakan, “Sekularisasi adalah konsekuensi sah dari implikasi keimanan Bible terhadap sejarah.” Cox menambahkan terdapat tiga komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas kepada sekularisasi, Yaitu: ‘disenchantment of nature’ yang dikaitkan dengan penciptaan (creation), ‘desacralization of politics’ dengan migrasi besar-besaran (exodus) kaum yahudi dari mesir dan ‘deconsecration of values‘ dengan perjanjian Sinai (Sinai Copenant).



Oleh : Adnin Armas,
 Peneliti Institut for The Study of Islamic Thought and civilizatian ( INSIST )

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Seputar Istilah sekularisasi ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari August 27, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Seputar Istilah sekularisasi Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email