August 04, 2012

Bungkamnya mulut sang penerima Nobel.

Nelson Mandela dan Aung San Su Kyi, Saya sangat terinspirasi dengan dua tokoh besar ini, yang menerima nobel perdamaian, sebuah penghargaan bergengsi bagi pejuang demokrasi dan perdamaian dunia, pejuang hak asasi manusia, mereka dilihat oleh dunia sebagai orang yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan  di Negaranya masing-masing.

Nelson Mandela seorang pemimpin afrika  yang sangat terkenal, dan sampai sekarang tetap dipuja oleh rakyatnya sebagai seorang tokoh pembebas dari rezim apartheid (diskriminasi rasial),
yang berlangsung berpuluh tahun dinegaranya, dia tetap mepertahankam idealisme membebaskan afrika selatan dari diskriminasi rasial, walau penjara menantinya, dan menjadi teman setianya selama lebih adri 20 tahun, sampai rezim apartheid tumbang dan dia menggantikannya melalui sebuah pemilihan langsung.

Tak jauh berbeda  dengan Aung San Su Kyi, dia di sebut tokoh demokrasi di Nyanmar (Burma), yang oleh pemimpin-pemimpin barat disebut sebagai icon demokrasi asia, karena kegigihannya memperjuangkan demokrasi, kebebasan sipil dan HAM dinegaranya di bawah rezim diktator militer yang otoriter,  yang mengendalikan negara dan pemerintahan itu berpuluh tahun lamanya, dimana hak-hak sipil dan kebebasan tidak begitu di pedulikan, dan sensor ketat terhadap informasi yang dianggap membayakan rezim diktator. Aung San Su Kyi tampil sebagai tokoh yang memperjuangkan hak-hal sipil, dengan resiko mendekam sebagai tahan rumah, yang tidak bisa bebas bepergian selama berpuluh tahun. Dunia barat  memberikan perhatian pada tokoh ini, karena dianggap sebagai tokoh kharismatik dan konsisten yang muncul dalam sebuah rezim yang otoriter dan berani mengambil resiko karena menetang rezim yang berkuasa melalui partai yang di dirikannya, sehingga ia mendapat ganjaran dengan menjadi  penerima nobel perdamaian, walaupun dia tidak bisa menerima langsung penghargaan tersebut karena ditahan oleh rezim yang berkuasa.

Perjaungannya memang tak sia-sia karena situasi Burma makin membaik, dan rezim militer sudah merubah diri menjadi lebih demokratis, dengan mengadakan pemilihan langsung, untuk memilih seorang presiden, yang sudah di pesiapkan oleh rezim tersebut, walaupun sudah terlihat lebih demokratis, karena sudah ada  partisipasi rakyat dalam menentukan pemimpinya. Aung San Su Kyi melihat perubahan tersebut sebagai era baru dalam iklim bernegara di nyanmar, dimana kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat sudah dirasakan, walaupun belum sepenuhnya, dan makin terberinya hak-hal sipil, makin menunjukan bahwa situasi Burma sudah lebih baik yang tahun yag lalu, dan dia pun sudah di bebaskan oleh rezim yang telah berganti rupa,

Apa yang terjadi sebenarnya
Saya sampai saat ini masih terus berpikir karena tak mengerti, apa sebenarnya yang terjadi pada orang-orang besar ini, saya jadi tidak begitu yakin dengan ketokohan mereka, mereka semua masih hidup dan menyaksikan berbagai macam ketimpangan dan ketidakadilan yang banyak terjadi di dunia.  Ada keinginan dari pemuja Mandela bahwa namanya akan di peringati setiap tahun sebagai hari Mandela sedunia, pantastik dan menarik, mungkin sebagian besar orang tidak akan kaget bila itu memang di tetapkan, karena  melihat sejarah Mandela begitu heroik memperjuangkan bangsanya untuk keluar dari diskriminasi rasial. Sekarang mungkin saya makin ngawur, dan bertanya, apa sih yang membedakan dia dengan pejuang-pejuang kemerdekan yang lain di tiap negara  di berbagai  belahan dunia, bahkan sebagian dari mereka ada yang lebih heroik dari apa yang di lakukan Mandela dan Aung San Su Kyi , lebih gigih, pantang menyerah, rela masuk penjara, dan bahkan banyak yang terbunuh karena perjuangannya.

Sebagai pejuang demokrasi dan HAM yang di ganjar nobel perdamaian, mestinya menjadi lebih  konsistensi dan loyal pada nilai kemanusiaan universal, yang tak terjebak pada kepentingan dan dominasi, sehingga bisa menunjukan bahwa ia benar-benar murni dan sejati sebagai ikon demokrasi,  sehingga tak ada pihak-pihak yang melihat bahwa apa yang dilakukan hanya sekedar lelucon belaka, dan perjuangannya hanya perjuangan sektarian saja dan tidak bernilai universal, karena hanya mementingkan ras, suku atau agamanya.

Apa yang terjadi di burma sudah menjadi sebuah lakon yang begitu dipahami Aung San Su Kyi, bahwa ada penindasan dan diskriminasi yang sangat menjungkir balikkan nilai-niai kemanusiaan dan bertentangan dengan perinsip HAM universal, dan orang-orang pantas bertanya, mengapa seorang Aung San Su Kyi tidak melakukan apapun untuk menghentikan pembantaian Etnis Rohingye dari kebuasan etnis mayoritas disana, seolah-olah Aung San Su Kyi hanya diam dan tak bergeming, mungkin hanya karena ia bukan dari etnisnya juga tidak sekeyakinan (berbeda agama), apakah beginikah karakter pejuang HAM dalam melihat ketidakadilan dan diskriminasi,  saya berkeyakinan bahwa sebagian besar orang mengatakan mereka Pejuang HAM dan demokrasi  selalu punya standar ganda dalam perjuangannya.

Tentunya Alfred Nobel menghibahkan uangnya untuk kemanusiaan, kedamaian, dan perkembangan pengetahan yang bermanfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian dunia, sehingga orang-orang terpilih adalah orang yang berkompeten, ahli, dan punya penerapan praktis dari setiap ide dan gagasan dari apa yang dia temukan, juga seorang yang melakukan tindakan heroik, berjuang tanpa lelah untuk menegakkan nilai kemanusiaan, persamaan dan kebebasan yang universal, khususnya pemenang nobel perdamaian seperti yang diterima oleh Aung San Su Kyi.

Mandela, setali tiga uang dengan Aung San Su Kyi,  Mandela telah berumur panjang sekitar 91 tahun. Hal yang sangat tidak saya mengerti adalah keinginan pemuja Mandela untuk menjadikan satu hari dari 365 menjadi hari Mandela sedunia, ya hari Mandela, yang mungkin sejajar dengan hari besar dunia seperti May day (hari buruh sedunia), hari kesehatan sedunia, hari bumi sedunia atau hari buku sedunia. Apa yang  menarik dari pejuangan Mandela, ia memang begitu menginspirasi bagi banyak orang termasuk saya, untuk tetap berjaung menegakan idealisme, mungkin itu yang mendasari  para pemuja Mandela untuk mengusulkan adanya hari Mandela sedunia. Tapi bagi saya jangkauan perjuangan Mandela untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan tetap berkisar pada negaranya saja, yang tidak banyak berbeda dengan pejuang kemerdekaan di indonesia yang terkenal heroik itu atau dinegara lainnya di berbagai belahan dunia. Bagi saya Mandela tak pernah betu-betull berperan aktif dalam perdamaian dunia, terbukti bahwa kita tak pernah mendengar pernyataan kecaman-kecaman yang keluar dari mulut seorang Mandela terhadap ketidakadilan yang terjadi, invasi militer amerika di Irak, bencana kemanusiaan di darfour Sudan, atau kejadian pembantaiaan Etnis Rohingye di Burma (Nyanmar).

Bagaimana pun tokoh  sebesar Mandela dan Aung San Su Kyi, bisa menjadi katalisator bagi perdamaian dunia, karena pengaruh mereka begitu kuat, apalagi mereka penerima penghargaan bergengsi di bidang perdamaian. Tapi sayangnya orang-orang ini jauh dari apa yang diharapkan, saya juga juga sangsi bahwa apa yang mereka terima sebagai penerima Nobel tak lebih hanya karena kedekatan ralasional dengan beberapa tokoh dan pemimpin-pemimpin negara besar/maju. Sehingga jalan untuk mendapatkan penghargaan itu begitu besar, walaupun saya yakin sepenuhnya bahwa bmereka berjaung di negara masing-masing bukan untuk mendapatkan nobel, sekali lagi mereka tak berbeda dengan pejuang-pejuang kemerdekaan yang tersebar di seluruh dunia. 

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Bungkamnya mulut sang penerima Nobel. ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari August 04, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Bungkamnya mulut sang penerima Nobel. Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

1 comment:

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email