November 27, 2012

Guru dan kemajuan Bangsa

Hari guru ternyata jatuh pada  tanggal 25, dua hari yang lalu, saya tahu hal tersebut dari sebuah postingan seorang teman blogger yang sempat  saya baca kemarin.  karena hari guru  tidak di masukan  sebagai hari libur nasional, makanya tanggal 25 November di anggap sebagai hari biasa saja bagi masyarakat awam dan tak punya makna apapun., sehingga  hari guru hanya dianggap sebagai hari untuk para guru saja. sehingga yang memperingatinya hanya guru-guru saja. Tapi saya pribadi  terus teringat tentang kata yang di lekatkan pada sosok guru, Pahlawan Tanpa Jasa, ya  tanpa tanda jasa, saya ingat selalu kata itu. walaupun tak semua guru  cocok untuk pernyataan tersebut, karena hanya guru-guru yang ikhlas dan penuh dedikasilah yang menurut saya cocok untuk pernyataan tersebut. 

Tak jarang kita menemukan seorang sosok yang  berprofesi sebagai guru, yang justru apa yang dia lakukan justru tak mencermin sikap seorang pendidik. Sekian banyak  guru yang ada, beberapa diantaranya justru menjadi sebuah mesin kekerasan bagi siswanya, sehingga menimbulkan trauma bagi siswa tersebut. tak bisa di pungkiri jenis guru seperti itu sebenarnya di lahirkan dari sebuah tata kelola kehidupan masyarakat yang salah yang cenderung apatis dan materialisme, yang di dorong oleh kehidupan yang sarat nilai-nilai individual (egoistik) serta pesimistik pada kehidupan. sehingga menjadi guru bukanlah panggilan jiwa, tetapi sebuah cara untuk memenuhi hasrat dan jiwa materialisme karena di anggap bahwa menjadi guru adalah cara yang efektif untuk bertahan dalam kehidupan yang keras.

Melihat bahwa guru sebagai  bgaian dari subsistem pendidikan yang vital bagi pembangunan sumber daya manusia yang memadai, maka tak pelak lagi bahwa system pendidikan memang harus melahirkan sebuah formula untuk mendorong para guru untuk menghayati perannya sebagai seorang pendidik yang mampu memotivasi siswanya untuk menggali pengetahuan dan wawasan untuk memaksimalkan potensinya. Tentunya peran guru tak bisa di napikan bahwa semakin rendah kualitas guru, maka siswa yang didiknya kemungkinan besar jauh dari ideal, bahkan bisa lebih rendah dari kulaitas gurunya,

Mungkin kita sering mendengar bahwa sekitar tahun 80 Malaysia pernah mengimpor guru dari Indonesia untuk mengajar disana,  dan banyak pelajar dari Malaysia yang belajar  di Indonesia, karena Malaysia melihat bahwa Indonesia sebagai Negara yang pendidikannya begitu maju pada saat itu. Tetapi apa yang terjadi setelah lebih 20 tahun kemudian. Indonesia justru yang banyak mengirimkan pelajarnya ke Malaysia untuk  belajar, tentunya kita bertanya, ada apa dengan kita, apakah masa 20 tahun lebih itu kita tidak melakukan apa-apa untuk membangun pendidikan di Negara kita, kita kemana saja dan sedang berbuat apa dalam kurun watu itu..?? 

Tentunya kita harus meng evaluasi diri, mengapa kita kembali belajar pada Negara yang pernah kita ajar. Maka muncullah spekulasi yang mendekati kebenaran, ketika melihat fakta yang ada, ada yang mengatakan bahwa anggaran untuk pendidikan tidak sampai 20 % dari total APBN, ada yang mengatakan bahwa kualitas  guru kita tak memadai untuk menciptakan SDM yang berkualitas, arah system pendidikan kita yang salah arah, sebagaimana yang sering kita lihat pada penetapan kurikulum dan kebijakan pendidikan, sebuah sindiran yang kritis tentang hal tersebut, ganti menteri ganti kebijakan dan kurikulum, yang artinya kebijakan pendidikan kita sangat kental nuansa  politiknya sehingga tidak ada kesinambungan program dan kebijakan, sehingga selalu di mulai dari awal lagi, dan bukan berasaskan pada keputusan dan arah pendidikan yang jelas.

Argumentasi tentang kualitas guru yang berperan bagi penurunan kualitas pendidikan kita,  adalah bentuk pencarian kambing hitam yang tidak relevan. pada  dasarnya memang tak salah, tetapi tak sepenuhnya tepat,  ia adalah turunan langsung dari pengelolaan sistem pendidikan yang sangat politis, dengan arah yang salah.

Semoga guru-guru kita juga menyadari bahwa guru merupakan bagian integral bagi pengembangan dan pembangunan SDM yang berkualitas. Dan pilihan untuk menjadi guru lebih dari sekedar untuk mendapatkan penghargaan dan upah, tetapi panggilan jiwa, nurani untuk melakukan pengabdian yang tulus untuk membangun bangsa  serta  generasi yang akan datang.

# Selamat Hari Guru, untuk guru-guruku tercinta #

Sumber gambar : 
http://djuneardy.blogspot.com/2012/07/etika-terhadap-guru-kita.html
http://gorontalo-education.blogspot.com/2012/09/sikap-sikap-profesional-guru.html

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Guru dan kemajuan Bangsa ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari November 27, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Guru dan kemajuan Bangsa Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

2 comments:

  1. nice post bang :)
    jadi kangen guru2 SD-SMA ku :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal.
      Thank's very much atas atensi dan kunjungannya.
      Ya, Guru adalah guru, akan tetap akan di kenang karena jasanya yang besar, bahkan lebih dari apa yang kita pikirkan tentangnya, tanpa harus memilah karena perangainya, yang sebagiannya mungkin tak bisa kita terima.
      salam.

      Delete

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email