September 07, 2012

Media Cetak Vs Media online.

Apa yang kita bayangkan dengan judul diatas..?? mungkin pertentangan, ketidaksetujuan atau persaingan. Yang jelas. Saya hanya bingung mau memberi judul apa postingan ini, karena saya hanya akan menceritakan tentang pengalaman saya, tentang kedua media tersebut diatas. Mungkin tak ada yang unik, karena setiap orang sudah akrab dengan media yang saya maksud.

Media online, seperti yang sudah kita ketahui bersama, adalah sarana untuk berbagai informasi di dunia maya, bisa portal berita, blog, jejaring sosial, website,  forum dll. Sedangkan media cetak, sama saja pengertiannya, akan tetapi dalam bentuk cetak,  seperti  Koran harian, majalah, jurnal atau pun pamplet, dan selebaran. Tentunya media-media ini, mungkin sering kita gunakan untuk mendapatkan informasi atau berita.
  
Jadi mengapa saya harus memberinya kata versus (Vs)..?? Apakah dua media mainstream tersebut, memberikan informasi/pengetahuan yang berbeda satu sama lain.  Saya tak membahasnya seperti itu, saya hanya menceritakan tentang perkenalan dan keakraban saya dengan dua media tersebut. jadi tak usah berpikiran bahwa apa yang saya sampaikan di sini memuat polemik seputar media online dan media  cetak.

Setahun yang lalu saya berlangganan salah satu media cetak, tepatnya Koran harian Kompas, saat itu ada sales kompas yang mampir ketempatku, untuk menawarkan Koran tersebut, dan katanya untuk kalangan mahasiswa, tentunya dengan harga berlangganan setiap bulan  sekitar 50 ribu. Bagi saya, yang memang belom pernah berlangganan Koran harian sebelumnya, saya betul-betul tertarik,  bukannya tak tertarik dengan  harian  lokal, Cuma saya ingin membaca Koran harian dengan format /sajian yang lebih beragam  menyajikan informasi/berita, sehingga saya memutuskan untuk berlangganan harian kompas.

Saat itu, saya belumlah begitu aktif menggunakan internet, karena belom sempat untuk memelikii modem.  Saya begitu menikmati setiap pagi membaca harian kompas. Karena informasi yang di  sajikannya begitu beragam, bukan berarti saya menafikan media cetak yang lain, Cuma saya juga  lebih dulu berkenalan dengan harian ini, sehingga belum kepikiran untuk berlangganan dengan harian yang lain, baik yang lokal ataupun yang harian nasionlal.

Memasuki bulan Ramadhan yang lalu, saya sudah jarang membaca harian kompas, karena saya betul-betul menjadi pengguna internet yang aktif, seakan-akan tak ada kesempatan lagi untuk membaca Koran harian, yang notabene saya masih berlangganan. Saya kemudian berpikiran untuk berhenti berlangganan harian kompas pada pertengahan Ramdhan, dengan alasan, bahwa saya akan pulang kampung  untuk mudik lebaran, dan saya akan mengontak/menghubungi  kembali jika ingin berlangganan lagi,  begitu yang saya sampaikan pada  penagih iuran kompas waktu ia datang terakhir ketempatku. Saya berpikiran bahwa jika saya  pulang kampung dan masih berlangganan, maka tak ada yang membaca harian itu, akan mubazir jadinya,  kalau sebelumnya, walaupun saya jarang membaca harian ini, tapi teman-teman yang lain, banyak yang datang ke kost untuk membacanya.

Saya sebenarnya tidak mengerti bagaimana penagih iuran kompas tersebut memahami bahasa saya, ketika saya menyampaikan kepadanya bahwa saya akan berhenti berlangganan dan nanti mengontak kembali jika ingin berlangganan lagi, maksudku jika saya tak mngontak lagi,  maka saya memutuskan untuk tidak berlangganan lagi selamanya.  Anehnya sekitar 4 hari yang lalu loper Koran harian Kompas datang lagi, membawakan harian tersebut, padahal saya belom pernah mengontaknya,  jadi sudah sekitar 4 hari ini, saya menerima harian kompas setiap paginya, dan belum ada satupun yang saya baca..

Saya mereka-reka bahwa ini masalah miskomunkasi, di mana apa yang kita sampaikan tidak mampu di pahami oleh oang lain, penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena saya menyampainnya dengan tidak begitu baik, atau saya yang kurang begitu tegas, sehingga miskomunikasi bisa terjadi. Apa jadinya, jika kejadian yang saya alami, terjadi pada hal-hal yang urgen/penting,  yang menyangkut kehidupan orang banyak. Misalnya president mengamantkan kepada pimpinan kepolisian untuk memberantas korupsi, tetapi Kapolri malah tidak betindak seperti apa yang di maksud sang  President. Dan hebatnya hal seperti ini sering terjadi, jangan-jangan para elit politik tidak punya kompetensi dalam mengemban amanat yang di berikan, atau memang tidak ada itikad baik untuk melaksanakan aturan hukum yang ada, kita sebagai rakyat biasa,  hanya bisa berharap semoga  para pejabat/elit politik itu tidak melakukan seperti apa yang terjadi pada saya, dan penagih iuran harian kompas tersebut.

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Media Cetak Vs Media online. ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 07, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Media Cetak Vs Media online. Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email