August 21, 2012

Kemenangan itu Fitrah

source
Hari ini, kita merayakan kemenangan, seperti banyak pernyataan para ustast kita yang memberi khotbah pada pada hari ini, sesudah Shalat Id tadi. Sebagai muslim yang telah melakanakan puasa selama sebulan lamanya, merasakan kemenangan, karena telah selesai melaksanakan puasa yang menguras tenaga, dan kembali fitrah seperti bayi yang keluar dari perut ibunya. Kemenangan  yang di dapatkan bukanlah kepuasan fisik saja, tapi peningkatan kualitas spiritual kita yang semakin membaik, karena jika kita melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh,  maka segala noda dan dosa akan di ampuni oleh Allah SWT, seperti yang telah di janjikan-Nya, sehingga kemenangan yang kita dapatkan, seperti  layaknya kemenangan orang dari medan perang.

Hal yang  sangat perlu di ingat bahwa manusia lahir dengan keadaan suci dan bersih, tanpa noda, seperti keras putih yang plos. Ibarat yang sering menjadi perumpamaan tentang proses awal kehadiran seorang manusia di bumi. Kita datang dengan menggenggam tanggung jawab dan harapan. Tumbuh besar dalam lingkungan yang di ciptakan oleh kedua orang tua kita, dan merekalah yang pertama kali menulis di kertas putih jiwa kita, menjadikan kita seperti apa yang mereka yakini dan pahami. Dalam Islam sering kita dengar juga pernyataan, bahwa seorang bayi lahir dalam keadaan suci, orang tualah yang memberi andil bagi bayi itu, apakah ingin menjadi Majusi, Nasrani atau menjadi Islam. Dalam pengertian ini lingkungan keluargalah yang memberi peran pertama dan utama  bagi pembentukan sebuah pribadi dan karakter seorang manusia. 


Fitrah pertama kita dalah suci, hal yang seperti inilah yang selalu diserukan oleh Agama-agama samawi yang asli, dan Islam secara khusus dan tuntas membahas tentang firah tersebut. Ketika pribadi telah terkontaminasi oleh dosa dan salah, aib, sikap ujub, sombong, berprilaku tdak adil. Maka kita di ingatkan bahwa kita harus kembali kepada fitrah kita, kembali pada sesuatu yang sejalan dengan fitrah tersebut. Sikap baik, suka menolong tanpa pamrih, memberi maaf, rendah hati, berlaku adil, adalah sikap dan prilaku yang sejalan dengan awal kejadian kita, dan dengan sikap dan prilaku tersebut diharapkan menjadi bagian utama yang memperkuat sekaligus menegaskan eksisensi kefitrahan manusia.

Hal lain yang kedua merupakan fitrah kita adalah bebas/merdeka, seperti halnya dengan kesucian, bebas bisa di bahasakan dengan kemampuan untuk memilih dua hal yang berbeda, mungkin ini bukan defenisi yang baku, tapi sebuah pengertian operasional, yang sejalan dengan apa yang saya kemukakan. Kita bisa memilih dua tindakan yang berbeda, bisa memilih untuk melakukan atau tidak melakukan, menerima kebaikan atau menolaknya, berbuat dosa atau menganjurkan kebaikan. Itulah kita, manusia sudah fitrahnya di berikan kemampuan-kemampuan fitrawi untuk menentukan yang prioritas dan yang alternatif, itu adalah kemampuan bawaan kita. 

Fitrah kita yang ketiga, Akal atau berakal. Sebenarnya semua saling berkaitan, dengan akal kita bisa membedakan antara kebaikan atau keburukan, kebenaran dan kesalahan. Suatu hukum alam bisa dipahami hanya orang-orang yang berakal, kita dengan gampang melakukan sebuah penyimpulan logis terhadap  apa yang kita amati, perhatikan dan teliti. Manusia bisa menalar sebuah kebenaran, sebuah perangkat logis yang diberikan Allah SWT pada manusia, kemampuan memilih sebenarnya lahir disini. 

Dengan kemampuan membedakan antara kebaikan dan keburukan, kejahatan dan kemaslahatan, dosa dan pahala, kita bisa  memilih/bebas menentukan  apa yang  yang menjadi keinginan kita. Disini jugalah lahirnya sebuah tanggung jawab, dan bermaknanya pahala dan dosa. Karena dengan kemampuan memilih antara baik dan buruk, kebaikan atau kejahatan, kita memiliki kuasa untuk memilih satu diantara dua hal, dengan kekuatan penalaran dan kemampuan menganalisa. Bahwa manusia akan di mintai pertanggung jawaban di akherat kelak terhadap apa yang mereka lakukan di dunia, bukanlah perkara ynag tidak masuk akal, karena yang telah dibahas bahwa manusia memiliki fitrah di awal kejadiannya, dan semua berpulang pada kemauan dan kehendak kita, apakah kita mengikuti fitrah  sebagai tanda/petunjuk yang jelas, atau mengikuti yang lain, itu terserah kita.


Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Kemenangan itu Fitrah ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari August 21, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Kemenangan itu Fitrah Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email