August 27, 2011

Intelligent Design

Abad ke-19 menyaksikan sebuah kekeliruan terbesar dalam sejarah umat manusia. Ini berawal dengan dikenalkannya filsafat materialis warisan Yunani kuno kepada pemikiran bangsa Eropa. 

Kekeliruan ini adalah teori evolusi Darwin. Sebelum kemunculan Darwinisme, biologi diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan yang membuktikan keberadaan Tuhan. Dalam bukunya Natural Theology, biologiwan terkenal William Paley menyatakan, “Setiap jam menunjukkan keberadaan pembuat jam, rancangan di alam membuktikan keberadaan Tuhan.”


Tetapi, teori evolusi Darwin menolak kebenaran ini. Dengan memutarbalikkan kebenaran agar sesuai dengan filsafat materialis, ia menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup muncul akibat peristiwa alamiah biasa, tanpa ada unsur kesengajaan. Dengan kata lain, secara kebetulan. Dengan cara ini, ia memunculkan pemisahan semu antara agama dan ilmu pengetahuan. Dalam buku The Messianic Legacy, para peneliti Inggris Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln berkata tentang hal ini:

Bagi Isaac Newton, satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan tidaklah terpisah dari agama, bahkan sebaliknya, menjadi bagian dari agama, dan pada akhirnya mengabdi kepadanya. Akan tetapi ilmu pengetahuan masa Darwin menjadi persis sedemikian itu, yakni memisahkan dirinya sendiri dari kerangka tempat dulunya ia berada, dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai pesaing mutlak, sebagai pemberi penjelasan tandingan. Alhasil, agama dan ilmu pengetahuan tak lagi bekerja seiring, tapi berdiri saling berhadap-hadapan, dan umat manusia semakin dipaksa untuk memilih di antara keduanya. (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, The Messianic Legacy, Gorgi Books, London:1991, hlm.177-178)


Tidak hanya biologi, cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti psikologi dan sosiologi pun dipaksakan agar sesuai dengan filsafat materialis. Astronomi dibelokkan mengikuti dogma materialis Yunani kuno. Tujuan baru ilmu pengetahuan adalah untuk mengukuhkan kebenaran filsafat materialis. Gagasan keliru ini telah menyeret dunia ilmu pengetahuan kepada kebuntuan selama 150 terakhir.


Puluhan ribu ilmuwan dari berbagai cabang ilmu bekerja dengan berpengharapan akan mampu membuktikan Darwinisme atau teori-teori materialis lainnya. Namun mereka kecewa. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan sesuatu yang malah bertentangan dengan kesimpulan yang ingin mereka capai. Dengan kata lain, bukti-bukti tersebut malah mengukuhkan kebenaran Penciptaan.


Kini dunia ilmu pengetahuan sangat tercengang oleh kenyataan ini. Ketika alam diteliti, maka yang muncul adalah adanya perencanaan dan perancangan besar di setiap bagian-bagian terkecilnya. Hal ini telah meruntuhkan landasan berpijak filsafat materialis. Misalnya, struktur luar biasa DNA mengungkap kepada para ilmuwan bahwa DNA bukanlah hasil peristiwa tak disengaja. DNA dalam satu sel manusia berisi informasi yang cukup untuk memenuhi seluruh ensiklopedia yang terdiri atas 900 jilid. Gene Myers, seorang ilmuwan dari perusahan Celera yang menangani Human Genome Project (Proyek Genome Manusia), menyatakan berikut ini Apa yang sungguh mengejutkan saya adalah arsitektur kehidupan. Sistemnya sungguh luar biasa kompleks. Seolah ini telah dirancang. Terdapat kecerdasan mahahebat di sana. (San Francisco Chronicle, 19 February 2001)


Keterkejutan ini mengguncang seluruh dunia ilmu pengetahuan. Para ilmuwan memandang dengan takjub ketidakabsahan filsafat materialis dan Darwinisme yang dulunya diajarkan kepada mereka sebagai suatu kebenaran. Sebagian mereka bahkan menyatakannya secara terbuka. Dalam bukunya Darwin’s Black Box, salah seorang dari para tokoh ini, Profesor Biokimia asal Amerika, Michael Behe, menjelaskan keadaan dunia ilmu pengetahuan sebagaimana berikut:


Selama empat puluh tahun terakhir, biokimia modern telah menyingkap rahasia sel. Kemajuan ini dicapai dengan susah payah. Diperlukan puluhan ribu orang yang membaktikan sebagian besar masa hidupnya untuk pekerjaan laboratorium yang membosankan. Hasil kerja keras kumulatif untuk meneliti kehidupan di tingkat molekuler ini adalah teriakan yang lantang, jelas, dan nyaring: “desain!”. Hasil ini demikian jelas dan penting sehingga patut digolongkan sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan. 


Namun, tidak ada sambutan meriah, tidak ada tangan yang bertepuk. Mengapa masyarakat ilmiah tidak menyambut penemuan mengejutkan ini dengan penuh kegirangan? Yang menjadi masalah adalah ketika salah satu sisi penemuan ini diberi nama desain cerdas, maka sisi yang lain haruslah diberi nama TUHAN. (Michael J.Behe, Darwin's Black Box, New York: Free Press, 1996, hlm. 231-232)


Hal yang sama terjadi di bidang astronomi. Astronomi abad ke-20 telah menghancurkan teori-teori materialis abad ke-19. Pertama-tama, dengan dibuktikannya Big Bang, terungkap bahwa jagat raya memiliki awal, yakni saat Penciptaannya. Sejak itu, disadari bahwa di jagat raya terdapat keseimbangan yang luar biasa cermat dan peka yang melindungi kehidupan manusia. Karena alasan ini, di dunia fisika dan astronomi, atheisme mengalami kemunduran pesat. Sebagaimana fisikawan Amerika, Robert Griffiths, yang berkata sambil bergurau Jika kami memerlukan seorang atheis untuk berdebat, Saya akan pergi ke jurusan filsafat. Jurusan fisika tidak begitu ada gunanya. (Hugh Ross, The Creator and the Cosmos, hlm. 123)


Singkatnya, di saat dan di masa kita, filsafat materialis tengah mengalami keruntuhan. Ilmu pengetahuan menemukan kembali fakta-fakta sangat penting dan pasti yang diingkari filsafat materialis, dan dengan demikian konsep ilmu pengetahuan yang baru tengah dilahirkan. Teori “Intelligent Design” (Perancangan Cerdas) yang mengalami kemajuan pesat di Amerika Serikat selama 10 tahun terakhir berada di barisan terdepan dari gagasan ilmu pengetahuan yang baru ini. Salah satu situs mereka adalah http://www.intelligentdesignnetwork.org. Mereka yang menerima teori ini mengatakan bahwa Darwinisme adalah kekeliruan terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan, dan bahwa terdapat perancangan cerdas di alam yang membuktikan adanya Penciptaan. Misalnya, mikrobiologiwan Australia, Michael Denton, menyatakan bahwa organ-organ rumit makhluk hidup tidak dapat dijelaskan melalui evolusi:


Inilah pertanyaan paling mendasar yang dihindari setiap orang, yang diabaikan, dan yang dicoba-sembunyikan setiap orang. Kenyataan sesungguhnya adalah bahwa kebanyakan adaptasi kompleks di alam ini tidak dapat dijelaskan secara memuaskan dengan pembentukan melalui serangkaian bentuk-bentuk peralihan. Dan ini pada kenyataannya adalah suatu, sejauh yang saya pahami, masalah yang sangat mendasar. Faktanya adalah terdapat sedemikian banyak hal seperti ini. Bagi saya tidak menjadi soal, ada sesuatu yang salah dengan teori tersebut. Pikiran sehat memberitahu saya pastilah ada sesuatu yang salah. Biologiwan terkenal Jerman, Werner Gitt, menjelaskan bagaimana informasi genetis pada makhluk hidup membuktikan Penciptaan dalam ungkapan berikut ini:


Mustahil jika informasi baru berasal dari suatu proses acak. Jika Anda melihat suatu program komputer, program ini memerlukan keberadaan seorang pembuat program. Jika Anda menyaksikan sebuah mobil, mobil tersebut memerlukan keberadaan perancangnya. Jika Anda melihat informasi biologis di dalam sel, maka Anda wajib berkata – sebuah kesimpulan yang benar – bahwa informasi ini memerlukan Pencipta yang telah menciptakan program berupa gen-gen, untuk menciptakan protein-protein, untuk menciptakan organ-organ. Adalah wajib bagi Anda berkesimpulan demikian. Jadi, dapat kita katakan bahwa evolusi adalah sebuah proses yang mustahil. Profesor Biokimia Amerika, Michael Behe, menjelaskan mengapa keberadaan Pencipta adalah sebuah fakta ilmiah:


Saya pikir kesimpulan tentang desain adalah sesuatu yang ilmiah, yang empiris, benar-benar didasarkan pada sistem yang teramati... Jagat raya dan kehidupan dikehendaki ada, ini semua adalah hasil kerja cerdas. Dan saya ingin mengungkapkan bahwa gagasan ini datang dari ilmu pengetahuan yang telah berkembang, ini bukanlah dari apa yang tidak kita ketahui, sebaliknya ini berasal dari apa yang telah kita pelajari selama lebih dari 50 tahun lalu.


Filsuf Amerika, Phillip Johnson, merangkum tentang apa yang telah dicapai ilmu pengetahuan sebagaimana berikut Kita ada di sini sebagai hasil karya Pencipta cerdas yang memunculkan keberadaan kita untuk sebuah tujuan. Keberadaan kita dan apa yang ada di atas makhluk hidup lainnya adalah hasil kerja sadar yang memiliki tujuan dari Sang Pencipta.


Sumber :
www.eramuslim.com

Ditulis Oleh : Beck Inspiration

Artikel Intelligent Design ini ditulis oleh Beck Inspiration pada hari August 27, 2011. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Intelligent Design Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

Jaringan Pertemanan

inet.detik