October 01, 2012

Humor bijak ala Nasaruddin Hoja (Part 1)

Sebagian besar orang mungkin sudah mengenal tokoh yang satu  ini, yang sangat terkenal dengan humor-humornya yang bijak dan inspiratif, yang setara dengan tokoh Abu Nawas dari Bagdad, pesan moral dan kebijaksanaan yang  di sampaikan lewat percakapan dengan tokoh dan masyarakatnya pada saat itu, sungguh mudah di cerna, karena dibalut dengan narasi humor yang  sangat apik, dan tak menenggelamkan pesan-pesan utamanya, dengan narasi seperti itulah, biasanya sangat efektif untuk menyampaikan pesan kepada audien yang dimaksud, dibawah ini potongan narasi-narasi tersebut..

NASRUDIN MEMANAH 

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. 
Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, 
ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. 
Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. 
Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan. 

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, 
"Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu 
memanah. Panahlah sekali saja. 
Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, 
hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, 
engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu." 

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. 
Dengan memantapkan hati, 
ia membidik sasaran, dan mulai memanah. 
Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, 
"Demikianlah gaya tuan wazir memanah." 

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. 
Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset 
dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, 
"Demikianlah gaya tuan walikota memanah." 

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. 
Ia membidik dan memanah lagi. 
Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. 
Nasrudin pun berteriak lagi, 
"Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. 
Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja." 

Sambil menahan tawa, 
Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin

RELATIVITAS KEJU 

Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. 
Istrinya menyambut dengan gembira, 

"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya. 

"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. 
Keju itu baik untuk kesehatan perut." 

Tidak lama Nasrudin kembali pergi. 
Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira 
juga. 

"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin. 

"Tidak ada lagi," kata istrinya. 

Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu 
tidak baik bagi kesehatan gigi." 

"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin 
bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau 
tidak baik untuk gigi ?" 

"Itu tergantung," sambut Nasrudin, 
"Tergantung apakah kejunya ada atau tidak." 

ORIENTASI PADA BAJU 

Nasrudin diundang berburu, 
tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. 
Tidak lama, hujan turun deras. 
Semua kuda dipacu kembali ke rumah. 
Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, 
lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, 
dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat 
bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat. 

"Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku," 
 ujar Nasrudin ringan. 

Keesokan harinya, cuaca masih mendung. 
Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, 
sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. 
Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. 
Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah 
lebih basah lagi. Sementara itu, 
Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya. 

Sampai rumah, Nasrudin tetap kering. 

"Ini semua salahmu!" teriak tuan rumah, 
"Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!" 

"Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, 
bukan pada baju." 


MENJEMUR BAJU

Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. 
Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk mengeluh, 

"Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, 
ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. 
Air persediaan kami tinggal beberapa kantong lagi. 
Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan." 

Nasrudin mau menolong mereka. 
Tetapi ia minta dulu seember air. 
Maka datanglah setiap kepala keluarga membawa air 
terakhir yang mereka miliki. 
Total terkumpul hanya setengah ember air. 

Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, 
dan dengan air itu, Nasrudin mulai mencucinya. 
Penduduk kampung terkejut, 

"Mullah ! Itu air terakhir kami, 
 untuk minum anak-anak kami!" 

Di tengah kegaduhan, 
dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, 
dan menjemurnya. Pada saat itu, 
terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan lebat. 
Penduduk lupa akan marahnya, 
dan mereka berteriak gembira. 

"Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin 
 di tengah hujan dan teriakan penduduk, 
"Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!" 


By : Anonim

Sumber gambar :
  • http://ibnu92.mywapblog.com/kisah-kisah-nasrudin-hoja.html

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Humor bijak ala Nasaruddin Hoja (Part 1) ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari October 01, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Humor bijak ala Nasaruddin Hoja (Part 1) Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email