January 21, 2012

Perubahan iklim dan Arogansi Negara Industri Maju

Suhu Permukaan bumi semakin panas, hal ini dapat kita rasakan dan saksikan di lingkungan kita, dan ini mencemaskan banyak orang, korporat dan para petinggi negara-negara didunia. Perubahan temperatur bumi yang semakin ekstrem, bisa mengakibatkan sebagian ekosistem terancam punah, juga punya pengaruh signifikan pada siklus perubahan musim.

Ancaman perubahan suhu ekstrim telah menjadi kekhawatiran dunia internasional, yang melihatnya sebagai ancaman bersama, sehingga menggugah sebagian besar negera maju dan berkembang untuk melakukan rembug dan bersama untuk mencari solusi dari problem yang sedang di hadapi. ancaman serius dari perubahan iklim akan mengakibatkan sebuah problem besar jika tidak di tanggapi dengan cepat, karena akan memberi dampak jangka panjang terhadap keseimbangan ekologi bumi.

Hampir semua Negara didunia merasakan dampak dari perubahan iklim ini, indonesia sebagai negara yang pas di lalui oleh garis maya khatulistiwa, merasakan dengan signifikan dampak tersebut, bisa di lihat, diantaranya dengan kenaikan permukaan air laut, siklus musim yang tidak menentu, berkurangnya sebagian dari spesies flora dan fauna, dan meningkatnya suhu rata-rata di permukaan bumi, hal makin perparah dengan semakin berkurangnya hutan dalam sekala yang besar. Negara sub sahara juga paling merasakan dampak perubahan iklim tersebut, diamana kekeringan dan kelaparan merupakan dampak langsung yang dialami oleh negera-negara pada bagian tersebut, yang juga merupakan efek langsung dari perubahan iklim yang makin ekstrem.

Para ahli lingkungan membuat pernyataan yang mengejutkan, terkait dengan perubahan iklim dan pemanasan global:

  • Perubahan Iklim merupakan tantangan yang paling serius yang dihadapi dunia di abad 21.
  • Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam setudi mutakhir memperlihatkan bahwa masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.
  • Pemasan global di masa depan lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Sebagian besar setudi tentang perubahan iklim sepakat bahwa sekarang kita menghadapi bertambahanya suhu global yang tidak dapat dicegah lagi dan bahwa perubahan iklim mungk sudah terjadi sekarang. Pada bulan Desember 1977 dan Desember 2000, Panel Antar Pemerintah Mengenai Perubahan Iklim, badan yang terdiri dari 2000 ilmuwan, mengajukan sejumlah pandangan mengenai realitas sekarang ini.
  • Bencana-bencana alam yang lebih sering dan dahsyat seperti gempa bumi, banjir, angin topan, siklon dan kekeringan akan terus terjadi. Bencana badai besar terjadi empat kali lebih besar sejak tahun 1960.
  • Suhu global meningkat sekitar 5 derajat C (10 derajat F) sampai abad berikut, tetapi di sejumlah tempat dapat lebih tinggi dari itu. Permukaan es di kutub utara makin tipis
  • Penggundulan hutan, yang melepaskan karbon dari pohon-pohon, juga menghilangkan kemampuan untuk menyerap karbon. 20% emisi karbon disebabkan oleh tindakan manusia dan memacu perubahan iklim.
  • Sejak Perang Dunia II jumlah kendaraan motor di dunia bertambah dari 40 juta menjadi 680 Juta; kendaraan motor termasuk merupakan produk manusia yang menyebabkan adanya emisi carbon dioksida pada atmosfer.
  • Selama 50 tahun kita telah menggunakan sekurang-kurangnya setengah dari sumber energi yang tidak dapat dipulihkan dan telah merusak 50% dari hutan dunia.
Penyebab pemanasan global dan perubahan iklim
Pemansan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah di udara, Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan ndustri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring banyak panas dari matahari. Sementara lautan danvegetasi menangkap banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global.

Sepanjang seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari bahan baker fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan untuk bahan baker fosil dan energi nuklir. Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah. Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin, dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%.

Hal yang menarik, tentang perubahan iklim yang terkait dalam liputan VOA tertanggal Sabtu, 10 Desember 2012, yang berjudul Konferensi IklimPBB di Durban Berlangsung di Luar Jadwal. Dalam laporan tersebut VOA menurunkan berita yang berisi tentang pertemuan 200 negara yang bertemu di durban ubntuk membahas tentang isu-isu perubahan iklim beserta dampaknya bagi dunia, dimana ingin memperbaharui kesepakatan sebelumnya (protokol kyoto) yang memuat tentang keseriusan negara penghasil emisi rumah kaca untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka yang di hasilkan oleh sebagian besar industri di negara maju dan negara berkembang, yang sayangnya tidak di ikuti oleh negara penghasil emisi terbanyak seperti amerika, cina dan negara lainnya yang tidak menantangani perjanjian tersebut, dan negara tersebut baru akan merundingkannya seteleh 2020. Isu besar lainnya adalah membentuk Green Climate Fund, untuk menyediakan dana bagi proyek-proyek lingkungan di negara-negara berkembang. Negara-negara mengalami kesulitan menyepakati tentang sumber-sumber pendanaan apa yang akan digunakan bagi badan itu, dan tentang aspek-aspek teknik lainnya.

Dualisme sikap negara maju
Emisi karbon dari Industri
Dapat dikatakan negara yang tergabung dalam The Group of Twenty (G-20) merupakan negara-negara yang memiliki tingkat emisi paling tinggi diantara negara lainnya. G-20 terdiri dari 19 negara (China, Amerika Serikat, Brasil, Indonesia, Rusia, India, Jepang, Jerman, Kanada, Britania Raya, Meksiko, Korea Selatan, Italia, Perancis, Australia, Afrika Selatan, Turki, Arab Saudi dan Argentina) dan Uni Eropa.

Apabila kita menghitung total prosentase emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs, and SF6) dengan memasukan emisi yang berasal dari alih guna lahan maka 19 negara di G-20 bertanggungjawab atas sekitar 71,34% total emisi dunia (WRI, 2005). Apabila Uni Eropa diikutsertakan dalam penghitungan, maka jumlah prosentase akan semakin meningkat menjadi sekitar 76,95% dari total emisi dunia (WRI, 2005).

Kalau dilihat dalam presentasi diatas, negara majulah (annex1) yang paling banyak menyumbang Emisi, dan negara majulah yang seharusnya lebih bergiat dan bersemangat untuk melakukan kampanye global tentang perubahan iklim tersebut, tetapi sangat riskan bahwa sebagian besar dari negara maju seakan enggan dan ingin lari dari tanggung jawab yang mereka miliki sebagai negara industri yang merupakan penyumbang terbanyak emisi tersebut, sungguh naif sikap sebagian negara industri tersebut bila kita melihat bahwa persoalan tentang perubahan iklim dan pemanasan global merupakan persoalan keberlangsungan kehidupan kita di palnet kita ini, dimana suhu bumi naik secara signifikan dari tahun ke tahun.

Negara dengan penduduk banyak, seperti Cina, India, Kanada, Amerika berusaha keras agar tidak muncul protokol baru yang diusulkan oleh Uni Eropa dan negara-negara kecil kepulauan. Menurut India dan Cina, belum saatnya mereka diberi beban pengurangan emisi seperti negara-negara maju pendahulunya di Barat. Sementara Amerika Serikat yang ditemani sekutu setia-nya Kanada menghendaki tidak ada komitmen pengurangan emisi global yang hanya memaksa negara mereka sebagai negara maju untuk patuh. Dua negara minta satu saja, pengurangan emisi domestik masing-masing negara untuk menemukan cara yang murah dan mudah dalam pengurangan emisi domestic.

Melihat ketidakseriusan beberapa negara maju,  untuk berperan aktif dalam pengurangan emisi, memberikan alasan yang sangat tidak bijak dan terkesan acuh;
  • Amerika tidak merasakan akibat perubahan iklim. Memang ada kekeringan, ada banjir, badai hurricanes. Kejadian alam itu selalu ada dan aktivitas yang dilakukan untuk mengurangi emisi hanya akan membuat hidup lebih sulit dan makin mahal. Mengendarai mobil dan menyalakan lampu di rumah akan lebih mahal. Dan kami juga terisolasi dari bagian dunia lain. Kami punya dua samudera dan dua tetangga negara sahabat Kanada dan Meksiko.
  • Melihat “kemustahilan” dari protokol ini. tidak mungkin bila harus mengorbankan semua teknologi yang ada, guna merawat bumi, pernyataan ini di keluarkan oleh negara kanada yang menyatakan keluar dari komitmen protokol kyoto.  
  • Australia dengan tegas mengatakan bahwa dia tak akan ikut dalam perjanjiam dan komitmen pengurangan emisi jika negara-negara penyumbang emisi terbanyak tidak ikut dalam meratifikasi protokol kyoto.
Sangat riskan sebenarnya, bahwa persoalan yang menyangkut keberlangsungan kehidupan di planet bumi ini, masih banyak negara yang menempatkan ego dan identitasnya dalam merespon isu perubahan iklim tersebut, sehingga upaya-upaya untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global seakan-akan hanya merupakan tanggung jawab negara-negara berkembang, mencermati sikap sebagian dari negara industri penyumbang terbanyak emisi tersebut, kira kita bisa melakukan beberapa analsisi kritis terkait dengan sikap yang ditunjukan negara-negara tersebut.

  • Mereka masih menganggap bahwa isu pemanasan global merupakan hal yang sepele, sehingga tidak perlu komitmen kuat untuk mendukung dan ambil bagian dalam perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat yang didukung oleh mayoroitas negara berkembang.
  • Sebagian negara industri tersebut masih berpikir dalam kerangka yang sangat materil dan politis, karena hanya memikirkan tentang negaranya dan berapa banyak biaya yang di keluarkan untuk mengurangi emisi tersebut. Sehingga kesan yang muncul bahwa negara-negara tersebut cenderung arogan dalam membuat keputusan.
  • Negara maju tersebut ingin melepas tanggung jawab mereka untuk memberikan sejumlah dana untuk negara berkembang sebagai bentuk konpensasi, dimana negara berkembang diberi tanggung jawab untuk memelihara hutan mereka, yang sebagian besarnya dijadiakan lahan dan tempat industri negara maju dan memberikan dampak perusakan lingkungan dan ekosistem di negara tersebut.
  • Ada kesan bahwa negara industri tersebut masih melihat negara berkembang sebagai subordinasi dan lemah, sehingga keputusan apapun yang diambilnya, tak akan mempengaruhi hubungan antar negara maju dengan negara berkembang.
  • Tak bisa di pungkiri bahwa negara tersebut masih memaksakan sistem kolonialisme dalam membangun hubungan dengan negara berkembang, yang sebagian besarnya adalah negara yang pernah dijajah oleh negara tersebut, sehingga tak bisa duduk sejajar dalam melihat suatu persoalan, sehingga negara-negara berkembang dibiarkan sendiri menanggung beban yang timbul dari efek perubahan iklim dan pemanasan global tersebut
Kita ingin bahwa kita bisa menempati dunia yang nyaman dan anak cucu kita bisa hidup untuk kehidupan selanjutnya setelah kita, apa yang kita lakukan sekarang akan memberi efek pada kehidupan berikutnya. Kita tak mugkin diam melihat kerusakan yang sedang berlangsung dan mengancam kehidupan bumi secara luas, ada bentuk tanggung jawab yang harus di pikul dan dilaksanakan sebagai bentuk komitmen kita pada diri dan kemanusiaan, tak alasan untuk lari dari tanggung jawab itu, kita telah mewarisi sebuah dunia yang indah dan nyaman, maka sudah seharusnya kita memelihara warisan tersebut, karena kita semua menginginkan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih baik untuk generasi kita sesudah kita, seharusnya itu menjadi kesadaran manusia, dimanapun dia bermukim di planet ini.

Sumber dan Refensi:

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Perubahan iklim dan Arogansi Negara Industri Maju ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari January 21, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Perubahan iklim dan Arogansi Negara Industri Maju Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

12 comments:

  1. global warming memang telah menjadi isu dunia. seharusnya upaya menyelamatkan bumi menjadi misi utama setiap negara. pembangunan berwawasan lingkungan harus benar2 diimplementasikan, bukan sekadar slogan. tulisan yang bagus dan mencerahkan, mas becks.

    ReplyDelete
  2. @SAWALI TUHUSETYA@
    salam.
    Pemanasan global merupakan permasalahan yang mendesak dan sudah seharusnya setiap negara berpartisipasi dalam menanggulanginya, tetapi nuansa politik dan kepentingan masih menjadi hambatan utama dalam mewujudkan bumi yang nyaman untuk di tinggali, karena negara-negara maju masih melihat persoalan tersebut sebagai hal yang sepele, karena memang negara maju tersebut tak terkena dampak langsung dari efek pemanasan global tersebut, dan ironisnya merekalah penyebab utama perubahan iklim tersebut, karena faktanya mereka adalah penyumbang emisi terbanyak..
    Salam.

    ReplyDelete
  3. dampak Global warning itu mungkin saja dampak dari tekhnologi yg smakin berkmbang dan itu tdk boleh dipungkiri lg,

    ReplyDelete
  4. Semakin melejit luar biasa Global Warming gan.Semakin jauh dengan ini semakin ketinggalan kereta:)

    ReplyDelete
  5. salam.
    Mharjipes@ : Memang seperti itu, maraknya industri dan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil yang melepaskan karbon dioksida ke udara adalah slah satu penyebab utama dari munculnya pemanasan global, dan tentusaja ada sumbangsih dari peralatan rumah tangga seperti mesin pendingin/kulkas.
    Bisnis Online@ : perubahan iklim dan pemanasan global akan bertambah parah bila tidak dikurangi penyebabnya dan akan melaju dengan cepat, dengan indikator bahwa suhu di permukaan bumi naik dengan drastis, memang harus ada kesadaran bersama dari pihak terkait, mungkin itu juga yang menginspirasi pemerintah untuk mewacanakan tentang pembangunan berwawasan lingkungan. semoga.
    salam.

    ReplyDelete
  6. wah.. postingan yang menarik dan menambah wawasan sob.. lagi2 soal arogansi dan kepentingan sendiri. setuju dengan Istilah "kolonial", mereka merusak bumi oleh perkembangan industrialisasi negara mereka, mengeruk harta negara2 lain termasuk Indonesia, membangun industri di negara lain yang keuntungan untuk negara itu tidak lebih dari 40%.. sayang kita tidak punya nyali untuk mengurusi negara kita sendiri.. sehingga ketergantungan teknologi masih sangat terasa..
    Indonesia pun menjadi latah dengan pesatnya perkembangan teknologi, dengan semakin mahalnya energi posil, proyek pengembangan Nuklir terus digalakkan, sementara pembangunan pembangkit listrik tenaga Hidro seakan di abaikan.. #hmm dan saya pun hanya bisa berkomentar.. :D

    ReplyDelete
  7. @Andro Bhaskara@
    salam.
    begitulah ironi sebuah negara berkembang yang punya pemimpin lemah, sering didikte tanpa bisa berbuat apa, faktor ketergantunganlah penyebabnya, dan negara2 adidaya seakan sengaja mempertahankan ketergantungan negara berkembang, untuk memudahkan kontrol terhadap keputusan-keputusan yang akan diambilnya nanti.
    salam.

    ReplyDelete
  8. wah gak ada yg baru lg yagh Broth, salam blogger makassar

    ReplyDelete
  9. Salam.
    Mharjipes dot Com @ : Ia bro, mudah-mudahan bulan depan g begini lagi. salam kembali
    Katils @ : kayaknya memang begitu, bumi semakin renta, ditambah lagi penghuni bumi tak perhatian lagi, komplikasi jadinya, makin cepat berakhir sebelum waktunya.

    ReplyDelete
  10. Sukses buat blog nya mas,,,,info yang bermanfaat,,,,,

    ReplyDelete
  11. waaah sangat menarik sekali bosss artikelnya............
    hehehehe... ijin TKP yaaa

    ReplyDelete

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email