September 14, 2011

Dunia Membutuhkan Keseimbangan

Judul: The Tao of Physics : Menyingkap Paralelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur, 

Penulis: Fritjof Capra

Penerjemah: Pipit Maizier,
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta, Agustus 2001, Tebal: (xvi + 414) halaman.




DI Universitas Cambridge, pada tahun 1959 pernah berlangsung suatu coloqium yang menghadirkan pembicara ilmiah Charles Percy Snow. Transkrip pidatonya itu memicu sebuah diskursus panjang di belahan Benua Eropa.


Orasi ilmiah CP Snow menyorot kesenjangan antarbudaya. Di satu pihak adalah budaya literer, kelompok yang secara tradisional menyebut dirinya intelektual. Meski kritik mereka berwatak fiksional, merekalah tampaknya yang menjadi pemegang hak cipta untuk berbicara semua ihwal tentang kehidupan dan dunia.

Sementara di pihak lain ada para scientist, yang tak pernah dianggap sebagai intelektual, kadang-kadang malah dipandang sebagai tukang. Walaupun harus diakui, kerja mereka yang berpijak pada dunia empiris justru secara nyata telah mengubah dunia seperti yang kita lihat saat ini.

Dalam salah satu bab penutup orasi itu CP Snow menitipkan, sebut saja harapan atau mungkin impian, bahwa nantinya akan lahir budaya ketiga yang bisa menyatukan budaya literer dan budaya ilmiah.

Dua puluh tahun kemudian, budaya ketiga yang diimpikan Snow itu lahir dari tangan dingin seorang fisikawan energi tinggi Inggris, Fritjof Capra, dalam buku Tao of Physics. Inilah buku yang oleh Physics Today dinobatkan sebagai buku perintis, tidak saja mampu merujukkan antara tradisi literer dan tradisi ilmiah, tetapi jauh melangkah dari itu, berhasil mempertautkan wacana spiritualitas dan sains mekanik.

The Tao of Physics yang edisi Indonesia-nya diterbitkan ini bertujuan meningkatkan citra sains dengan memperlihatkan bahwa terdapat sebuah harmoni yang par excellence antara ruh kebijaksanaan Timur dan sains Barat. Buku yang dilengkapi diagram-diagram yang melimpah ini boleh dibilang ingin meletakkan "sebuah dasar ilmiah untuk agama"; caranya: mengawinkannya dengan hakikat kosmologi sub-atomik.

Usaha ini, tentu saja menggembirakan hati para agamawan kontemporer, sehubungan dengan perseteruan agama dan sains sejak beberapa abad lampau.
***
MENURUT Fritjof Capra, genealogi untuk menemukan ide-ide spiritualitas dengan fisika sebenarnya sudah berlangsung lama. Genealogi itu bisa kita lacak sejak ditemukannya rumusan fisika quantum yang mengakhiri kemelut ilmu fisika di awal abad ke-20.

Antara tahun 1925 dan 1926, tiga teori quantum yang berlainan lahir. Werner Heisenberg melahirkan mekanika matriks, Erwin Schrodinger melahirkan mekanika gelombang, dan Paul Dirac melahirkan aljabar quantum. Ketiga teori itu memperlihatkan konsistensi internal suatu zarah atau zat yang sama bahwa pengukuran quantum selalu bersifat obyektif, paling tidak itulah tafsir yang dipromosikan oleh Mazhab Kopenhagen.

Pada mazhab ini pula-dengan Niels Bohr bertindak sebagai interpretator andalnya-kita temukan gagasan sekaligus tafsir atas epistemologi teori quantum, yang merangkum mekanika matriks dan asas ketidakpastian Heisenberg, tafsir Max Born atas mekanika gelombang Schrodinger, dan asas komplementer.

Menurut mazhab ini kita hanya dapat mengamati secara teliti separuh dari kenyataan keadaan fisik suatu sistem. Artinya kalau kita dapat mengukur dengan teliti kecepatan suatu partikel, pengukuran posisinya menjadi tidak teliti. Sebaliknya, semakin teliti kita mengukur posisi suatu partikel, semakin tidak teliti pengukuran kecepatannya. Itu terjadi karena dunia sub-atomik tidak bisa lepas dari kesadaran pengamatnya.

Jika fisika klasik mengasumsikan adanya dunia obyektif di luar sana dalam keadaan pasti dan tak tergantung pada tindakan pengamat, maka prinsip mazhab ini telah menampilkan gambaran kenyataan yang sebaliknya: pengamat dan yang diamati saling terkait erat (hlm 193). Inilah yang memunculkan asas ketidakpastian.

Ketidakpastian ini, menurut Heisenberg, bukan disebabkan ketidakmampuan manusia atau keterbatasan alat, tetapi merupakan sifat yang melekat pada alam semesta. Alam pada tingkat sub-atomik selalu bersifat paradoks, seakan-akan mengelak untuk diketahui manusia (hlm 69).
Albert Einstein-yang di awal abad ini mengembangkan kosmologi melalui teori relativitas-tidak bisa menerima kenyataan quantum yang serba tidak pasti ini. Baginya tidak mungkin alam diciptakan dengan aturan yang tidak bisa diketahui. "Tuhan tidak (sedang) main dadu," katanya.

Berharap dapat membuktikan bahwa di balik dunia quantum yang ganjil tersembunyi kenyataan yang selaras dengan tradisi deterministik-reduksionis fisika klasik, maka pada tahun 1935 Einstein, Podolsky, dan Rosen (EPR), merancang sebuah percobaan untuk membuktikan, bahwa ketidakpastian quantum tidak bersifat inheren, tetapi benar-benar disebabkan oleh tidak memadainya alat yang digunakan (hlm 370).

Usaha ilmiah ini ternyata gagal. Malah justru memperkuat aspek lain yang lebih menakjubkan dari dunia kosmologi sub-atomik, yaitu prinsip nonlokalitas, yang mengatakan bahwa partikel-partikel sub-atomik dapat saling mempengaruhi secara seketika dari jarak yang sangat jauh. Jika kita dapat membayangkan kosmis ini sebagai sebuah jaringan partikel-partikel yang saling berinteraksi dalam sebuah sistem quantum, maka prinsip nonlokalitas ini mengungkapkan sifat kesalinghubungan dalam kosmis. Ada cosmic connection dalam alam ini.
***
BERANGKAT dari pandangan kosmologi sub-atomik inilah Fritjof Capra kemudian membangun tesis paralelisme antara wacana mistik Timur dan fisika modern. Menurut dia, pandangan coincidentia oppositorum (penyatuan dari dua yang bertentangan) yang menjadi kesimpulan teori fisika quantum lebih mirip dengan pandangan tentang oneness of being (kesatuan wujud) dari mistik agama-agama, ketimbang monoteisme in the old sense ala Aristotelian.

"Monoteisme kesatuan wujud" inilah yang menghadirkan "kesadaran keagamaan," yang muncul lewat pandangan-pandangan kosmis yang lebih harmonis, ekologis, dan saling tergantung. Pandangan yang disebut "holistik" ini, bukan hanya memperlihatkan pertemuan kosmologi dengan agama saja, tetapi juga membawa perasaan kosmis, keagamaan itu sebagai (pinjam bahasa Einstein) "the strongest and noblest motive for scientific research."

Paralelisme itu dibahas Capra dalam bukunya itu secara menawan dan tajam pada sembilan bab terakhir yang meliputi dinamika gerak, asas perubahan, ruang-waktu, elemen-elemen quark, dan tarian-tarian kosmis. Sembilan bab pertama berisi sinopsis yang memukau atas wacana pemikiran Timur (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, Zen) dan presentasi yang komprehensif atas wacana fisika modern.

Akan tetapi, Capra tidak menafikan manfaat pandangan dunia mekanistik fisika klasik yang mendeskripsikan tentang fenomena-fenomena fisik yang kita jumpai sehari-hari, selain secara ekstrem memang telah terbukti sukses meletakkan dasar yang kukuh bagi perkembangan teknologi.

Namun, pandangan ini kurang cukup memadai untuk memotret fenomena-fenomena fisik dalam wilayah sub-atom yang menyimpan misteri. Untuk itu diperlukan semacam "transfusi darah dari pemikiran (kosmologi) Timur", katanya (hlm 360).
***
DONASI gagasan yang bisa kita tarik dari buku monumental dan berani ini adalah bahwa dunia ternyata membutuhkan keseimbangan, sebuah harmoni yang sejati dari sistem oposisi biner yang dijunjung-junjung para obyektivis. Maka yang dibutuhkan bukanlah sebuah sintesis melainkan suatu tarik-menarik yang kreatif dan dinamis antara intuisi mistis dan analisis ilmiah.

Buku ini agak susah dicerna, tetapi perlu dibaca. Bukan hanya oleh mahasiswa atau akademisi yang suntuk di bidang studi matematika, fisika, dan ilmu pengetahuan alam lainnya, tapi juga masyarakat awam yang ingin melihat bagaimana wacana pengetahuan yang sangat akrab dengan kehidupan manusia ini mengalami berbagai revisi dan sejarah perkembangan yang sangat radikal.

(Nurul Hidayah, mahasiswi Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta ).

Ditulis Oleh : Ahmad Bakri

Artikel Dunia Membutuhkan Keseimbangan ini ditulis oleh Ahmad Bakri pada hari September 14, 2011. Terimakasih atas kunjungan Anda pada blog ini. Kritik dan saran tentang Dunia Membutuhkan Keseimbangan Dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar dibawah ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih untuk teman blogger yang sudah sudi berkomentar di Blog ini :)


Tinggal Jejak Di Sini atau di kotak Komentar..!!

KOMPAStekno

About Me

My photo

I am Learning a Long life

Jaringan Pertemanan

inet.detik

Follow by Email